Tampilkan postingan dengan label Profil pemain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil pemain. Tampilkan semua postingan

Koko Prasetyo Darkuncoro : Sukses di Voli Pantai, Moncer di Voli Indoor

Sudah Kenal Voli sejak Lahir

Sama-sama cabang olahraga voli, voli pantai dan voli indoor memiliki karakter yang jauh berbeda. Hanya segelintir pemain yang bisa sukses di dua dunia itu. Koko Prasetyo Darkuncoro adalah salah satu di antaranya.

--Gaya khas Koko ketika memulai serve--

photo by teh rina JARUM jam menunjukkan pukul 09.00 WIB Minggu (25/1). Cuaca yang cerah sangat cocok untuk bersantai. Namun, Koko Prasetyo Darkuncoro sudah bersiap-siap meninggalkan hotel tempat para punggawa Palembang Bank Sumsel menginap. Bersama rekan-rekan setim, dia naik bus menuju GOR C-tra Arena, Bandung, untuk menjalani sesi latihan pagi.

Ya, selama musim Proliga 2009, Koko harus rela meninggalkan lapangan voli beralas pasir untuk memenuhi kewajiban sebagai anggota Bank Sumsel. Setidaknya hingga Maret mendatang, dia harus menanggalkan identitas sebagai pemain voli pantai untuk membela klub debutan di Proliga tersebut. Tuntutan manajemen yang berambisi meraih juara di musim perdana pun dijawab dengan permainan ciamik di lapangan.

Meski lebih dikenal sebagai pemain voli pantai, Koko memang langganan dikontrak klub voli indoor. Terlebih saat even-even besar seperti Proliga atau kejuaraan antardaerah. Tidak hanya meramaikan, dia selalu memberi kontribusi positif bagi klub yang dibela. Tak salah kalau akhirnya dia dianggap sebagai pemain voli pantai pria yang paling sukses di voli indoor.

"Sejak Proliga kali pertama diadakan, saya ikut. Saat itu, saya diajak tim Jakarta Bank DKI. Tidak langsung juara sih, tapi saya dapat gelar pemain dengan servis terbaik," kenang pria kelahiran 2 Oktober 1981 tersebut. Dia membela Bank DKI selama tiga musim. Yakni, hingga berakhirnya Proliga 2004.

Koko sempat absen dari kompetisi voli profesional paling elite di Indonesia tersebut selama dua tahun. Yakni, 2005-2006. Saat itu, dia harus konsentrasi mengikuti pelatnas proyeksi Asian Games Doha 2006. Setahun kemudian, dia come back. Kali ini, klub Jakarta P2B Sananta yang menyewa tenaganya. Pada 2008, dia membawa tim milik Pemda DKI tersebut sebagai juara Proliga.

"Saya memang basic-nya dari voli indoor. Voli pantai itu malah baru saya kenal setelah lama latihan indoor, sekitar umur 17 tahun. Jadi, sekarang saya gampang untuk main voli indoor," papar pria yang kali pertama berlatih voli di bawah arahan klub Ganefo Jogjakarta tersebut.

Jika dibandingkan durasinya, Koko lebih lama bersentuhan dengan voli indoor. Sebab, ayahnya juga pemain voli daerah. Dia mengenal olahraga itu saat kecil. "Istilahnya, kit mbrojol aku wes main voli (sejak lahir saya sudah main voli, Red)," candanya.

Kendati demikian, Koko masuk Ganefo ketika berusia 14 tahun. Saat itu, dia duduk di kelas 2 SMP. Sebelumnya, bungsu dari dua bersaudara tersebut sempat mencicipi masuk klub bulu tangkis. Maklum, di awal dekade 1990-an, olahraga tepok bulu itu melejit popularitasnya berkat prestasi di Olimpiade Barcelona 1992 serta Piala Thomas dan Uber 1994. "Tapi, hanya tahan dua tahun. Setelah itu bosan dan balik lagi ke voli. Lha wong dasarnya memang anak voli," ungkapnya.

Perkenalannya dengan voli pantai pun tidak disengaja. Pada 1998, Koko mengikuti kejurnas junior voli pantai dan indoor di Jakarta. Kebetulan, DIJ tidak memiliki pemain voli pantai. Karena atlet diperbolehkan bermain di dua nomor sekaligus, dia ditarik ke skuad voli pantai. Jadilah dia main dobel. Pagi, main di dalam gedung, malamnya dia langsung hijrah ke pantai.

Tak disangka, justru di voli pantailah prestasinya mencuat. Di debutnya sebagai pemain voli pantai, dia membawa DIJ meraih runner up. Permainannya pun sangat istimewa. Sampai-sampai, pelatnas pun kepincut. Setahun kemudian, dia masuk timnas voli pantai Indonesia.

Sebenarnya, ada perbedaan karakter antara dua cabang voli tersebut. Dalam voli indoor, pemain harus bisa main cepat dan taktis. Spike keras dan tajam efektif untuk mematikan lawan. Di pantai, pemain tidak saja berhadapan dengan lawan. Tapi, pasir yang membuat lompatan jadi berat dan cuaca yang kadang tak bersahabat. Cepat saja tidak cukup, tapi harus smart dan didukung fisik kuat.

"Setelah lama main di pantai, saya sempat tidak bisa main indoor. Jadi bodoh lagi. Butuh latihan sebulan penuh sebelum siap main. Sekarang, karena sering pindah arena, jadi terbiasa," papar Koko. (retna christa/diq)

BIODATA

Nama: Koko Prasetyo Darkuncoro

Lahir: Jogjakarta, 2 Oktober 1981

Postur: 185 cm/ 80 kg

Orang Tua: Sarodjo Darsono (ayah)-Dinik Rahayuni (ibu)

Karir Klub

1995 -2002 : Ganefo Jogjakarta

2002 - 2004 : Jakarta Bank DKI

2007 - 2008 : Jakarta P2B Sananta

2009 - ... : Palembang Bank Sumsel

Prestasi

Voli Pantai :

Emas Asian Beach Games I Bali, 2008

Emas SEA Games XXIV Thailand, 2007

Perak SEA Games XXIII Filipina, 2005

Emas Kejuaraan Dunia Antarmahasiswa 2004

Emas SEA Games XXII Vietnam, 2003

Perak Asian Games Korea Selatan, 2002

Voli Indoor

Juara Proliga 2008 (Jakarta P2B Sananta)

Perak PON Kaltim XVII 2008 (DIJ)

Servis Terbaik proliga 2002 (Jakarta Bank DKI)

sumber: Jawapos

Nety Dyah Puspitarani, Muka Baru di All Star

Gelaran All Star yang kurang dua hari lagi ini, memunculkan sebuah nama baru, Nety Dyah Puspitarini. Quicker asal Jakarta Electric PLN ini baru pertama kali terpilih untuk bertarung di All Star.“Nggak nyangka”, itu yang dikatakan Nety usai mendapat informasi bahwa dia terpilih.

“Saya kan baru dua kali ikut Proliga, makanya saya senang sekali tahun ini sudah bisa terpilih”, ungkap gadis yang tahun lalu memperkuat Jakarta Popsivo Polwan.

Meskipun menang atau kalah tidaklah terlalu penting dalam All Star nanti, tapi Nety berjanji akan bermain dengan sungguh-sungguh dan menyuguhkan permainan terbaiknya. “Tapi, tentunya saya tidak akan over confidence dan akan bekerja sama dengan pemain yang lain”, lanjut Nety.

Pemain asal Solo ini juga mengaku tidak canggung meski harus tergabung dengan pemain dari klub lain yang lebih senior dan dengan pelatih yang berbeda. “Saya sudah terbiasa main dengan teman yang berbeda-beda, jadi tidak ada masalah untuk penyesuaiannya”, terang pemain bertinggi 174 cm ini.

Besar di klub Vita Solo, gadis 18 tahun ini juga tergabung dalam timnas Junior Indonesia yang ambil bagian di Kejuaraan Junior Asia di Taiwan dan Kejuaraan Junior Asean di Jember

JUTHARAT Merebut Hati Pencinta Voli

jutharat

Bandung-PR, JUTHARAT Montripilia mungkin hanya dapat mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, seperti "siap," dan "satu, dua, tiga."

Akan tetapi, dengan keterbatasan bahasa itu, atlet asal Thailand ini mampu menjadi motivator utama tim voli putri Bogor Prayoga Unitas, sehingga mereka merasakan manisnya kemenangan pertama dalam kompetisi Sampoerna Hijau Voli Proliga 2009.

Saat melawan Jakarta Popsivo Polwan di GOR C-Tra Bandung, Minggu (25/1), Jutharat tak henti-hentinya bertepuk tangan, menyalami teman-teman setimnya, serta berteriak menyemangati mereka. Sungguh luar biasa, para pemain Prayoga bermain dengan rasa percaya diri tinggi, dan memenangi pertandingan dalam tiga set. Gadis kelahiran 2 Oktober 1986 ini kemudian meluapkan kegembiraannya dengan melompat-lompat dan tertawa bersama Mella dkk.

Dalam sekejap, dia sudah merebut hati para pecinta voli di Kota Bandung. Bukan hanya kepribadian yang memesona banyak orang. Permainan mahasiswi Dhurakij Pundit University ini juga patut diacungi jempol. Di balik lengan putih dan mungilnya itu, tersimpan kekuatan spike keras menukik yang mematikan.

Setidaknya, setengah perolehan poin Prayoga saat melawan Popsivo merupakan hasil pukulan keras tangan kanannya. Kalau tak jatuh di lapangan kosong, spike peraih gelar Best Player POM ASEAN 2008 (kompetisi bola voli antarperguruan tinggi se-ASEAN) ini selalu gagal dikembalikan pemain lawan.

"I`m happy," katanya terbata-bata. Hanya kalimat itu yang meluncur dari bibirnya ketika ditanya tentang perasaannya setelah memenangkan tim Prayoga. Namun, gadis manis itu langsung berucap, "No, can`t speak English," ketika ditanya lebih jauh tentang kesannya bermain di Indonesia. Jawaban itu justru membuat Jutharat menjadi sosok yang semakin menarik.

Semoga Jutharat cepat bisa berbahasa Indonesia, karena banyak pertanyaan dari para penggila voli, yang menunggu untuk dijawab pemain ini.

Novriali Yami, Hobi Berdiam Diri Di Kamar Mandi

Persaingan dunia perbolavolian Indonesia di sektor putri semakin seru dan menarik dengan hadirnya satu atlet muda belia nan rupawan asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Novriali Yami nama lengkap mojang Sunda yang di Sampoerna Hijau Voli Proliga 2008 ini memperkuat tim Bogor Prayoga Unitas.

-- Novrialli --

Mojang berbintang Scorpio ini, mengawali kecintaannya ke dunia voli sejak SMP kelas 1 sekitar tahun 2006. “Awalnya suka badminton, tapi karena Mama sering liat saya latihan tidak serius (ogah-ogahan) akhirnya Mama sarankan supaya pindah ke bola voli,” ungkap anak buah cinta dari pasangan Tomi dan Lilis Yani Sugiarti.

“Sejak masuk klub Bandung Tectona Junior, saya sudah menempati posisi all around” ujar cewek cantik yang selalu ditunggu penonton pria ini untuk beraksi.

“Ingat amarah Papa kalau main jelek”, itu yang memotifasi diri agar tampil bagus, jawab cewek kelahiran Purwakarta 4 November 1991 sambil tertawa.

“Latihan, latihan, dan latihan untuk meningkatkan skill individu dan kekompakan tim” itu yang dilakukan bersama teman-teman menghadapi kompetisi Proliga 2008. “Jujur, block saya kurang bagus dan rapat jadi mudah ditembus lawan” aku atlet yang memiliki nama panggilan Yami ini.

Ketika disingung target di Sampoerna Hijau Voli proliga 2008 ini, gadis bertinggi badan 170 cm ini menjelaskan, “Kami ingin memperbaiki peringkat jangan sampai menjadi juru kunci, dan di Jember nanti kami akan bermain semaksimal mungkin untuk memperoleh point, supaya bisa menaikan peringkat di klasmen”.Lebih lanjut, cewek pengidola Usep Suparman (Libero Jakarta P2B Sananta) ini juga mengatakan bahwa kans masuk ke Final Four untuk Prayoga sudah tertutup rapat.

“Laga dengan BNI Taplus yang diigeber di Kota Bogor lalu, merupakan pertandingan paling berkesan yang dilakoni selama proliga 2008”, kata Yami.“Karena kita sudah sempat memimpin 2 – 0, tapi akhirnya kalah rubber set 3 – 2”, sesal atlet yang selalu ingin membangakan keluarga dan orang tua dari prestasi olah raga yang digeluti..

Menurut Novrialli, tim putri yang paling tangguh adalah Jakarta Elektrik PLN. “Sebenarnya semua tim yang ikut bagian di proliga 2008 ini sama kuat dan sangat susah buat dikalahkan, tapi Jakarta Electri PLN lawan paling tanguh”, puji Yami.“Di Bogor, kami ditaklukan dengan angka yang cukup telak”, ungkap Yami sambil tersenyum.

Tim Pemkab Bogor Prayoga Unitas yang bertabur pemain muda usia yang berpotensial dimasa depan dan asyik merupakan satu kelebihan team ini.”Namun kalau sudah berada dibawah tekanan, kami juga akan sangat sulit untuk bisa keluar dan menemukan ritme permainan kami yang sebenarnya”, papar gadis berkulit bersih ini ketika ditanya kelebihan dan kekurangan dari Bogor Prayoga.

Pendidikan selalu menjadi alasan sulitnya seorang atlet untuk berkembang. Namun, sekolah tidak menjadi halangan untuk Yami berkiprah di Proliga.“Sudah 6 bulan cuti dari sekolah. Awalnya minta izin susah juga, tapi syukurlah kepala sekolah akhirnya memberikan dispensasi untuk ikut berkompetisi di Proliga”, jelas Yami dengan gaya khas anak remaja sekarang selalu semangat dan ceria.

“Aku akan selalu bersikap ramah dan dengan senang hati melayani penonton/fans yang ingin berphoto dengan saya asal masih dalam hal yang wajar”, ungkap Yami senang.“Tapi selama ini penonton atau pengemar voli di Indonesia masih bersikap ramah dan menyenangkan”, beber cewek yang sering meluangkan waktu sengan dengan nonton bareng teteh (kakak)

Novrialli pernah gagal seleksi masuk pelatnas Sea Games 2007 lalu. “Kegagalan tersebut merupakan satu tantangan buat saya supaya lebih memperbaiki permainan saya untuk ke depan, karena melihat usia saya yang masih belia masih banyak pengalaman dan pelajaran buat saya menambah ilmu”, demikian Yami menyiasati kekecewaannya.“Saya berharap suatu saat nanti bisa memperkuat tim inti timnas voli putri Indonesia”, harap gadis penyuka kangkung ini.

Ada satu sisi lain dari seorang Novrialli, ternyata cewek manis ini yang punya hobby unik, yaitu berdiam di kamar mandi ini, walaupun tidak ada kegiatan yang dilakukan disana.“Bahkan bisa sampai satu jam lho, suka aja”, lanjut Yami.

Mengenai type cowok yang disukainya, Novrialli tidak menginginkan yang neko-neko.“Yang pasti, dia harus cakep, soleh,sayang kepada keluarga dan orang tua, serta pintar olah raga”, kata Yami lirih.

Ada hal mulia “Sampai sekarang ada satu nazar yang belum saya penuhi buat orang tua”, ungkap Yami. Namun sayangnya, Novrialli enggan menjelaskan hal mulia tersebut. (donny)

Biodata Lengkap

Nama Lengkap : Novriali Yami

Nama Panggilan : Yami

Tempat/Tgl Lahir : Purwakarta, 4 November 1991

Tinggi Berat : 170/61

Ayah : Tomi I

bu : Lilis Yani Sugiarti

Hobby : Diam berlama-lama di kamar mandi

Anak ke : 2/4 bersaudara

Nomor Punggung : 3

Club : Bandung Tectona Jawa Barat

Agnes Frisilia : Libero baru Prayoga, Berharap Mampu Perbaiki Pertahanan Prayoga

Dara cantik kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1987 ini memang terlahir dari keluarga atlet. Sang ayah adalah atlet nasional lempar lembing, sementara ibunya adalah pemain voli. Bukan hanya itu, Oma dan (Alm) Opanya, orang yang pertama kali mengenalkan olahraga voli ke Agnes, adalah pelatih voli di tempat Agnes tinggal.

-- Agnes Frisilia ---

Agnes mulai serius bermain voli ketika memasuki SMP, dan akhirnya bergabung dengan Klub JVC Jakarta. Di sekolah atlet Ragunan lah karir Agnes di voli semakin naik. Lambat laun, Agnes dipercaya mengikuti pertandingan – pertandingan antar klub dan lain – lain.

Cewek penyuka makanan Manado ini berharap, semoga kedatangan dia ke Bogor Prayoga Unitas dapat membawa perubahan bagi kubu Prayoga dan tentunya membantu Prayoga keluar dari juru kunci klasemen Proliga 2008. “Saya hanya ingin memberikan yang terbaik buat Prayoga” harap dara yang baru berusia 20 tahun itu.

Meskipun terlambat bergabung karena terkendala masalah ijin dari tempatnya bekerja di WARA AU, toh menurut Agnes itu lebih baik.

“Yah lebih baik telat dari pada tidak sama sekali”, ujar Agnes.

Ketika ditanya mengenai target di Proliga kali ini, Agnes mengungkapkan, “Meskipun berat, semoga bisa membawa Prayoga sampai Final Four”, harap wanita penyuka lagu – lagu Westlife.

Mengenai keikutsertaannya yang pertama di Proliga kali ini, Agnes sempat agak nervous tapi dia selalu berusaha memotivasi dirinya sendiri untuk yakin dan tentunya dia selalu berdoa. Karena menurut cewek yang suka hang out bareng teman dan keluarga ini, ketika bertanding pasti ada rasa deg – degan.

“Tapi yah mau gimana lagi”, celotehnya sambil tersenyum ramah.

Mengakhiri wawancara dia sempat bercanda, “ Udah kayak wartawan aja Loe Tes”, katanya sambil menjitak saya. Itulah salah satu sifat Agnes yang friendly dan ramah kepada semua orang. (tsa)

BIODATA

Nama : Agnestsia Frisilia Mahuse

Tempat /tgl lahir : Jakarta, 31 Agustus 1987

Daerah asal : Manado

Ayah : Frans MahuseI

Ibu : Syenni Stella Mahuse

Anak ke : 2 dari 4 bersaudara

No.Punggung : 16

Motto hidup : Do de Best

Novia Andriyani, Kapten Muda Petrokimia

Bagi Novia Andriyani, menjadi pemimpin di antara teman-teman sebaya, bahkan lebih tua, awalnya tak nyaman. “Seperti ada beban berat di pundak saya karena semua seperti bergantung pada performa saya,” kata pemain jebolan IVOP (klub voli amatir asal Pacitan) itu.

Ia mengaku rasa itu muncul ketika timnya bertemu Surabaya Bank Jatim. Saking tegangnya, Novia mengaku sempat gemetar. Tapi, perlahan-lahan Novia bisa mengatasi masalah itu. Kendati timnya kalah 0-3 dari Surabaya Bank Jatim, Novia mampu memotivasi rekan-rekannya untuk memberikan perlawanan ketat.

Pengalaman menjadi kapten di kompetisi Proliga berbeda dengan yang lain. Sebelumnya cewek kelahiran 15 November 1991 pernah menjadi kapten di timnas voli yang berlaga dalam Piala Asia 2008 dan kapten tim Petrokimia pada Livoli Divisi satu di Blora, Jateng, 2008.

Ketika bertemu Jakarta Popsivo Polwan, Minggu (18/1), anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Effendi Rusmianto - Lilik Suryani ini berperan besar mengangkat moral timnya. Betapa tidak? Petrogres sempat tertinggal 0-2, tapi berkat motivasinya tim asal Gresik itu berbalik menang di tiga set berikutnya. “Ini kerja keras semua elemen tim,” tutur pemain dengan tinggi 171 cm itu.

Pelatihnya asal Cina, Wang Jun, memuji sang kapten. “Bagi saya, Novia bukan sekadar kapten, tapi juga seorang motivator sekaligus kreator permainan. Asalkan tidak besar kepala, saya yakin dia akan jadi pemain besar,” katanya.

Maya Kurnia Indri Sari, Pemain yang Jadi Sengketa Sparta-Bank Jatim

Jangan Komersialkan Saya

Maya Kurnia Indri Sari gerah dengan polemik yang mengiringi kepindahannya ke tim Surabaya Bank Jatim. Bagaimana perasaan dia sebenarnya?


PASUKAN Surabaya Bank Jatim tengah berpesta seusai kemenangan atas Bahana di pentas Livoli Kamis malam (18/12). Namun, Maya Kurnia Indri Sari tidak bisa sepenuhnya ikut gembira. Quicker muda yang jangkung itu masih terganggu dengan pemberitaan mengenai kepindahannya ke Bank Jatim yang masih dipermasalahkan oleh klub lamanya, Sparta Sidoarjo.

"Aduh, Maya ini juga nggak ngerti maunya mereka itu apa. Maya ngerasa perlu ngomong ini sekarang supaya nggak berlarut-larut. Supaya semua pihak ngerti perasaan Maya," sambatnya melalui sambungan telepon.

Menurut siswi SMU Manyar, Gresik, itu, dirinya sudah bukan pemain Sparta. Dia mengundurkan diri tiga tahun lalu, tepatnya saat akan membela Petrokimia Gresik (dulu masih bernama Gresik Phonska) di pentas Livoli 2005. Namun, meski tiga kali dia mengirim surat pengunduran diri, semuanya tidak ditanggapi pengurus.

"Karena sudah tiga kali tidak ada tanggapan, mestinya secara administrasi Maya sudah tidak terikat. Maya sudah lepas dari Sparta sejak saat itu," tuturnya. Namun, saat sudah membela Petro, Sparta masih menggandoli. Petro bahkan dituduh membajak Maya. Gadis yang identik dengan rambut pendek dan pipi tembem itu merasa Sparta belum rela melepasnya.

"Akhirnya, Maya bilang kepada pengurus dan pelatih-pelatih Sparta. Yakni, meskipun secara administratif Maya sudah bukan anggota klub, Maya tetap mau membela Sparta atau Pengcab Sidoarjo setiap ada kejuaraan," bebernya.

Tapi, lanjut Maya, berhubung Sparta tidak masuk level Divisi Utama Livoli, apalagi Proliga, dia harus berjuang mencari klub lain yang bisa mengakomodasi hasratnya bermain di kasta tertinggi kompetisi voli Indonesia. Setelah Petro, dia pindah ke Bogor Prayoga Unitas dan kini Bank Jatim.

Kendati sudah berkeliling Jawa, dia tidak melupakan Sparta. Dia menuturkan, setiap pulang membela Indonesia di berbagai ajang internasional, dia selalu berkunjung ke Sparta. Saat liburan sekolah dan Lebaran, dia bersilaturahmi ke rumah pelatih-pelatihnya. "Maya nggak lupa kok sama klub yang membesarkan Maya," ucapnya.

Kini dia merasa sedih karena selain menggandoli, Sparta sepertinya menginginkan uang transfer. Padahal, dia tidak lagi merasa sebagai pemain klub yang berlatih di Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo tersebut. Apalagi, banyak pemain Sparta yang lepas begitu saja tanpa dipermasalahkan pengurus.

"Kok mereka sampai segitunya memberati Maya ke Bank Jatim. Apa Maya ini punya mereka? Yang paling berhak atas Maya kan orang tua. Nah, ayah ibu Maya aja mendukung. Maya ini bukan barang, kok dikomersialkan seperti itu? Maya kecewa," beber gadis yang keluarganya berdomisili di Waru tersebut.

Maya menjelaskan, kepindahannya ke Bank Jatim bukan karena uang, tapi dia memang berniat mengembangkan potensi. Di klub yang dibesut pelatih Tiongkok Huang Mian Cheng tersebut, dia melihat kesempatan untuk berkembang. Bermain bersama nama-nama besar seperti Rianita Panirwan, Ana Yohanna, dan Lilin Lindawati adalah pengalaman tak ternilai.

Sementara itu, Ketua Sparta Hartono membenarkan bahwa Maya pernah mengirim surat pengunduran diri. Tapi, dia membantah pengurus tidak menanggapinya. "Surat dia sudah kami balas. Intinya, dia tidak boleh pindah ke klub lain yang masih di lingkup Jawa Timur. Kalau statusnya hanya pinjaman, boleh," jelasnya. (ko)

Data Diri

Nama: Maya Kurnia Indri Sari

Lahir: Sidoarjo, 17 Februari 1992

Orang tua: Suwaji (ayah)/Endra Sri Rahayu (ibu)

Postur: 174 cm/62 kg

Klub:

Surabaya Bank Jatim (2008-...)

Bogor Prayoga Unitas (2008)

Gresik Phonska (2005-2007)

Sparta Sidoarjo (1999-2005)

Sumber : Jawa Pos

Yuso Kecewa Tak Jadi Juara

Libero adalah posisi yang cukup krusial di tim voli. Pertahanan selalu bermuara pada seorang libero. Sunarwan, libero dari klub Bantul Yuso Tomkins ini menyadari pentingnya posisi dia dalam tim. Sehingga, dia tak pernah mengeluh dalam menghadapi beratnya porsi latihan yang diberikan oleh pelatih.

-- SUNARWAN --

“Kami latihan tiap hari pagi dan sore sampai malam. Hanya hari Minggu saja kami istirahat”, ujar pemain yang pernah berlaga di All Star Proliga 2007 tersebut. “Makanya, begitu ada waktu luang, saya gunakan semaksimal mungkin untuk tidur”, lanjut Sunarwan sambil tertawa.

Sunarwan mengaku cukup kecewa, ketika timnya gagal meraih juara di Proliga 2008 ini. “Kami tampil buruk di final four Bandung”, ungkap libero yang sebentar lagi genap berusia 22 tahun tersebut. “Kami seperti kehilangan semangat dan kekompakan tim”, lanjut Sunarwan.

Sunarwan kerap berteriak dan mengitari lapangan usai timnya mencetak angka, untuk membangkitkan semangat rekan-rekan se-timnya.“Kadang saya gemes, kalau melihat teman-teman di lapangan diam saja dan tidak ada komunikasi”, terang pria yang hobby berenang ini. Namun, diakui dukungan penonton menjadi suntikan semangat yang ampuh baginya.

“Wah, senang sekali kalau penontonnya ramai, main jadi lebih semangat”, ungkap pemain yang mengaku paling dekat dengan Miko dan Heru tersebut.

Grogi kerap menghinggapinya kalau nilai kejar-mengejar dan mencapai angka diatas 20. “Biasanya saya selalu menarik nafas dalam-dalam”, kata Sunarwan menjelaskan kiatnya dalam menghadapi perasaan nervous.

Nama Sunarwan mulai dilirik oleh pengurus Yuso, ketika penyuka tempe goreng ini memperkuat Jawa Tengah dalam Kejurnas Junior di Jogjakarta tahun 2004. Begitu bergabung, masih di tahun yang sama Yuso menjuarai Livoli di Cirebon.Prestasi yang sama juga ditorehkan Yuso dalam Livoli 2007 di Jember. “Senang sekali rasanya kalau Yuso menjadi juara”, kata Sunarwan.

Tidak bisa dipungkiri, kesibukannya dalam berlatih cukup mempengaruhi pendidikannya.Sunarwan baru sempat menjejakkan kaki di bangku kuliah ketika dia sudah lulus 3 tahun dari SLTA. Sekarang, di sela-sela kesibukan mengikuti berbagai kejuaraan dan latihan, Sunarwan kuliah di STIE Nusantara Yogjakarta. “Saya masih di semester 2 sekarang, ambil jurusan Manajemen”, lanjut Sunarwan ketika menceritakan mengenai sekolahnya.Dari SD hingga SMA, Sunarwan menamatkan sekolahnya di daerah asalnya Sragen Jawa Tengah.

Sempat dimarahi okeh kakak perempuannya, karena ketahuan mengikuti kejuaraan voli dan sepakbola dalam waktu yang bersamaan, akhirnya Sunarwan mantap memulai latihan di klub Popsi Sragen.Sosok yang menjadi kunci di pertahanan Yuso ini mulai mengeluti voli sejak kelas 5 SD. Mulai dari kejuaraan antar kecamatan, hingga akhirnya memperkuat Jawa Tengah di berbagai kejuaraan pelajar dan junior tingkat Nasional.

Ayahnya yang pemain sepakbola sangat berpengaruh dalam kariernya di bola voli. Karenanya, pria yang sedang konsentrasi pada persiapan PON di Kaltim Juli mendatang ini, ingin menyenangkan orang tuanya. “Ya, saya ingin nantinya sukses dalam pekerjaan, sehingga orang tua juga bangga kepada saya”, jelasnya.

Sunarwan juga berharap, agar Yuso mendapatkan sponsor yang tetap dan bagus. “Tiap tahun kami mengikuti Proliga, selalu dengan sponsor yang berbeda-beda.

Andri Widiatmoko diakui sebagai pemain idolanya.“Sejak sebelum bisa main voli, sudah melihat mas Andri di TV, mainnya bagus sekali”.

“Tidak menyangka, sekarang malah bisa bermain satu tim”, kata libero yang sangat menghormati pelatihnya tersebut. (ef)

Data Pribadi :

Nama lengkap : Sunarwan

Nama panggilan : Narwan

Tempat / tanggal lahir : Sragen, 15 Juni 1986

Tinggi / berat : 165 cm / 63 kg

Daerah asal : Sragen

Ayah : Sang Sang

Ibu : Supini

Anak ke : 5 dari 5 bersaudara

No. punggung : 18

Pendidikan :

MtsN Negeri 1 Sragen

SMAN 3 Sragen

STIE Nusantara, jurusan Manajemen

Prestasi :

Juara 2 Kejurda Yunior 2004

Juara I Livoli 2004 di Cirebon

Juara 3 bersama kejurnas junior 2004

Juara I Kejurnas Yunior 2005 di Medan

Juara 3 Proliga 2007

Juara 1 Livoli 2007

Juara 3 Proliga 2008

Lailatul Aisyah Siap Jadi Pemain Inti

Lailatul Aisyah gembira bisa membawa Petrokimia Gresik menjadi juara Sampoerna Hijau Livoli Divisi Satu.

-- Laila dalam seragam Timnas Junior --

"Senangnya bisa jadi juara," ucapnya. Petrokimia memang identik dengan sebutan spesialis finalis. Bahkan dalam kejuaraan antarklub daerah Jawa Timur mereka gagal menjadi juara setelah ditaklukkan Bina Bola Voli Banyuwangi.

"Mudah-mudahan ini memicu kami untuk lebih berprestasi," kata Aming, sapaan karibnya.

"Saya dipanggil Aming karena dulu kurus sekali. Sekarang badan saya lebih berisi karena latihan beban," akunya. Panggilan Aming diambil dari aktor komedian layar televisi.

Bergabung dengan Petro dua tahun lalu setelah mengikuti saran guru olahraganya ketika duduk di bangku kelas dua SMP, ia kini menjadi bagian dari regenerasi pasukan muda Petrokimia.

"Pelatih pertama saya adalah Pak Suyanto," katanya mengenang saat pertama kali bergabung dengan Petrokimia.

Aming kini terjaring dalam skuad tim nasional junior Indonesia bersama rekannya, Novia Indriyanti.

"Saya ingin dikenal sebagai pemain yang bagus dan bertanding di SEA Games," harapnya.

Aming memang harus berkorban untuk mencapai cita-cita. Kesibukan membela Petrokimia dan bergabung dengan pelatnas membuatnya mengorbankan pendidikan.

Tahun ini saja ia sudah lima bulan tak menginjak sekolahnya di bangku kelas dua SMA Negeri Manyar Gresik.

"Saya bahkan belum tahu kelasnya sebelah mana," katanya sambil tersenyum.

Tahun depan, ia bertekad lebih serius dalam sekolah. "Tahun depan saya ujian nasional, harus lebih berkonsentrasi," katanya.

Ajang berikut bagi Laila adalah mengikuti Proliga bulan depan. Musim lalu, ia sempat turun menggantikan posisi Dini Indah Sari. Kini seniornya tersebut tak lagi bersama Petrokimia. Siapkah Lailatul Aisyah menjadi pemain utama?

"Saya siap jika memang dipercaya jadi pemain inti," tegasnya. (erpe)

DATA DIRI
-----------------------
Nama: Lailatul Aisyah
Panggilan : Laila, Aming
Lahir : Gresik, 30 Maret 1992
Tinggi/Berat : 175 cm/65 kg
Orangtua : Mulyono - Sunarni
Anak ke : 4 dari 5 bersaudara

Sopian

Berkat penampilan apiknya bersama Jakarta BNI Taplus di Sampoerna Hijau Voli Proliga 2008, Sopian dipanggil untuk memperkuat tim nasional senior voli Indonesia dalam kualifikasi Olimpiade 2008 Beijing. Masuk timnas voli senior merupakan impian Fian.

Oleh Bogi dan Pippin


Keputusan Sopian memperkuat Jakarta BNI Taplus di Sampoerna Hijau Voli Proliga 2008 berbuah manis. Berkat penampilan apiknya, Dia dipanggil untuk memperkuat tim nasional voli Indonesia dalam kualifikasi Olimpiade 2008 Beijing di Portugal 30 Mei hingga 1 Juni 2008. Hal inilah yang didambakan Sopian selama ini. "Saya sudah beberapa kali gabung di timnas yunior, tapi kalau yang senior baru kali ini", tutur pria kelahiran Bandar Selamet Satu, 5 Agustus 1985, yang mengaku bermimpi bisa memperkuat timnas voli senior.

Sebenarnya, Fian sudah dipanggil untuk memperkuat timnas voli Indonesia, tapi untuk yunior. Terhitung, putra dari pasangan Untung dan Semi ini dua kali memperkuat timnas yunior voli Indonesia. Yakni di Hongkong pada 2003 dan Qatar 2004. Prestasi inilah yang membuat klub Surabaya Samator berniat merekrut Pian pada 2007. Sayang, PBVSI Sumut tak memberikan izin. Sebab, jika pemain yang berposisi open spiker ini bergabung dengan Samator, maka Fian bakal memperkuat Jawa Timur untuk kejuaraan yang bersifat nasional ini.

Fian, begitu Sopian biasa disapa, sudah mengenal voli sejak kecil. Namun, dia baru-baru benar serius menekuni olahraga yang dimainkan enam orang ini sejak duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Demi bermain voli di klub BPN, dia harus hijrah ke Kota Medan, Sumatra Utara. Sebelumnya sejak duduk di sekolah dasar sampai kelas satu SMA, ia menempuh pendidikan di kampung halamannya di Kabupaten Labuan Batu, sekitar enam hingga tujuh jam dari Kota Medan.

Kini,agar dia tetap dapat selalu memperkuat timnas voli senior, Fian berusaha berlatih seoptimal mungkin. Ya, setidaknya itu yang harus dilakukan bungsu dari empat bersaudara ini. Mantan tosser timnas yang juga rekan Fian di Jakarta BNI Taplus Loudry Maspaitella menilai secara teknik yuniornya itu sudah bagus. "Tapi, dia belum bisa bermain taktis seperti bagaimana mematikan tim lawan dengan tidak harus smas keras," begitu penilaian Loudry yang diingat oleh volimania saat final four Proliga 2008 di Bandung, Jawa Barat, April silam. Selain berlatih keras, Fian selalu menyerahkan semuanya kepada yang di Atas.

Biodata

Biodata

Nama : Sopian

Panggilan : Fian

TTL : Bandar Selamet Satu, 05 Agustus 1985

Ayah/Ibu : Untung/Semi

Anak ke : 4 dari 4 bersaudara

Posisi : Open Spike

Tinggi : 190 cm

Berat : 83 kg

Smas : 325 cm

Blok : 310 cm

Prestasi : - Runner Up Proliga 2008 bersama Jakarta BNI Taplus
- Juara 3 Kerjurnas Pra-PON 2007
- 2003 Bergabung di club BPN, Medan
- 2003 POPNas di Makasar
- 2003 Masuk TImnas Junior ke Hongkong
- 2004 Masuk Timnas Junior ke Qatar
- 2006 Proliga tergabung di PLN

Hobi : Bola Voli dan Berenang
Buku : Komik
Makanan : Sop Buntut
Film : action
Musik : Ungu
Pemain Idola : David Beckham

Koko Prasetyo Santai ala Atlet Voli Pantai

Peraih medali emas Asian Beach Games 2008 di Bali, Koko Prasetyo, punya kebiasaan bersantai yang beda dengan umumnya orang. Untuk melepas penat, ia justru bermain voli dalam ruangan.

-- Koko Prasetyo ketika membela Jakarta Sananta --

photo by : Teh Rina

”Mengikuti kejuaraan nasional antarklub divisi satu itu refreshing. Saya juga dapat mempertajam kemampuan bervoli,” kata Koko yang memperkuat tim putra Bank Sumsel dalam Kejurnas Voli Antarklub Divisi Satu Sampoerna Hijau Voli Livoli 2008 di Blora, Jawa Tengah, Rabu (10/12).

Kata atlet kelahiran Yogyakarta, 2 Oktober 1981, ini, bermain voli pantai lebih berat sebab ”musuhnya” tak hanya orang, tetapi juga panas, angin, dan pasir.

Ia berharap pemerintah daerah yang mempunyai wilayah pesisir mau mengembangkan voli pantai. Ini dapat dimulai dengan perlombaan voli pantai antardesa.”Kalau lagi tidak ada agenda bertanding, saya siap datang,” kata Koko yang langsung berpamitan menuju Malaysia untuk mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa ASEAN pada 12-22 Desember ini. (HEN)

Sumber : Kompas

Gunarti Indah Yani, Naik Pangkat Lalu Menikah

Bola voli memang cabang beregu yang mengutamakan kekompakan tim. Namun, saat tim dalam kondisi tertekan, seorang pemain akan menonjolkan kualitas individu. Mungkin ini tidak disadari pemain bersangkutan, tapi publik bisa merasakannya.

-- Gunarti Indah Yani ---

Inilah yang tampak pada diri Gunarti Indah Yani (26). Sosok toser tim putri Gresik Petrokimia ini memang sangat berpengaruh dalam laga seru di GOR Ken Arok, Malang, Sabtu lalu. Indah dkk. menyudahi perlawanan Jakarta Popsivo Polwan, yang bermain cukup ulet.

“Saya sendiri tidak merasa menjadi pemain terpenting karena faktanya semua pemain berjuang habis-habisan,” ujar cewek yang punya hobi berenang ini. Nyatanya pelatih Gresik Petrokimia, Qi Lixia, mengaku memberi peran lebih besar kepada Indah setelah ada pemain kunci yang tampil kurang maksimal.

“Dia pemain yang cukup matang, bisa mengendalikan permainan, dan menenangkan tim saat mulai panik,” imbuh asisten pelatih, Syaiful Bahri. “Selain itu, Indah dihormati pemain lain karena usianya paling tua di tim kami dan juga dikenal paling disiplin. Maklum, didikan tentara,” komentar rekan setim, Dini Indasari.

Target Indah pada Proliga musim ini adalah prestasi tinggi, tak hanya lolos ke final four. Bisa dimengerti sebab Petro hanya mampu menjadi runner-up pada empat edisi Proliga (2002, 2003, 2006, 2007). Gelar juara pun jadi bidikan utama.

”Kini pekerjaan saya juga menyita perhatian lebih, apalagi saya juga harus segera mengakhiri masa lajang. Memburu prestasi seusai menikah agak sulit. Sekaranglah saatnya lebih tinggi,” ujar anggota Kowal Mabes TNI AL di bagian Dinas Perawatan Personel dengan pangkat sersan dua ini.

Gadis mungil, untuk ukuran atlet voli, yang mulai berlatih saat kelas dua SMP itu memang harus berkonsentrasi di pekerjaannya. Apalagi bulan depan ia akan mendapat kenaikan pangkat. Selamat, dong! (idr/sn)

DATA DIRI
--------------------------
Nama Lengkap: Gunarti Indah Yani
Panggilan : Indah
Lahir : Yogyakarta, 7 Februari 1982
Tinggi/berat : 165 cm/55 kg
Pendidikan terakhir : SMU Popkri 2 Yogyakarta
Orangtua : Agus Suroto dan Wahyuni
Anak ke : Sulung dari dua bersaudara
Hobi : Renang
Karier Klub :
PPLP Yogyakarta
Bantul Yuso Tomkins
Gresik Petrokimia

Veleg Ristan : Berusaha Lepas Dari Bayang-Bayang Fadlan

Baru 3 bulan bergabung dengan Samator, Veleg sudah dipercaya menjadi libero tim Jatim dalam Kejuaraan Piala Presiden beberapa waktu yang lalu. Berbekal defend yang bagus, dengan percaya diri Veleg mampu mengemban tugasnya dengan baik sebagai pengganti Fadlan (libero Samator/Jatim sebelumnya yang telah hengkang dari Samator), hingga berhasil berkontribusi membawa Jatim sebagai pemuncak Kejuaraan tersebut.

Bangga, itu yang dirasakan pemuda yang baru saja berulang tahun ke 18 tersebut.

“Ini (Kejuaraan Piala Presiden) adalah kejuaraan paling berkesan bagi saya”, ungkap pemuda yang sangat menggemari nasi telor sambel itu.Lebih lanjut Veleg menyatakan keterkejutannya, “Saya tidak menyangka akan terpilih, karena sampai satu hari sebelum berangkat ke Malang (babak penyisihan Piala Presiden Zona III), mas Fadlan masih ikut latihan. Tapi, begitu pengumuman daftar pemain, ternyata saya yang terpilih”.

Selama ini, Samator dan Jatim identik dengan libero Fadlan yang telah banyak malang melintang di berbagai kejuaraan berskala nasional dan internasional. Veleg sangat menyadari hal tersebut, namun penyuka Valentino Rossi ini tidak lantas rendah diri.

“Jujur, awalnya saya cukup canggung dan grogi ketika pada meeting nama saya disebut sebagai libero, tapi saya percaya diri dan yakin kalau bisa,” tegas pemuda yang hobby billiar ini mantap.

* * *

Sejak kelas 1 SMP, Veleg telah bergabung dengan klub voli di daerah asalnya Pacitan, IVOP. Berawal dari sana, nama Veleg mulai dikenal setelah mengikuti banyak kejuaraan junior dan pelajar. Di kejuaraan junior dan pelajar, pria yang mengisi waktu luangnya dengan browsing internet dan shopping ini kerap bermain di posisi open spiker. Namun, kadang dia juga diminta bermain sebagai libero.

Ada satu cerita lucu yang diungkapkan Veleg mengenai posisinya sebagai libero ini, “Pada Kejurda Jatim di Bangkalan 2006, Pacitan keluar sebagai juara pertama. Lantas, pengurus Jatim minta agar Pacitan mengirimkan 2 pemain”, demikian ungkap Veleg.

Veleg melanjutkan, ”Pacitan mengirimkan 2 orang spiker termasuk saya”.“Nah, ketika datang TC saya bertanya ke Pak Woto, pengurus kala itu, liberonya siapa Pak?”, cerita Veleg.“Ternyata, Pak Woto menjawab, ya kamu itu liberonya”.

“Saya masih terpingkal-pingkal kalau ingat itu”, ucap Veleg seraya tersenyum.

Usai lulus dari SMAnya di Pacitan (Juli 2008), barulah pemuda yang mengidolai David Beckham itu pindah ke Surabaya dan bergabung dengan Samator. Bercita-cita menjadi pemain nasional serta membela Indonesia di kancah internasional, Veleg berupaya sekuat tenaga agar bisa membanggakan keluarganya.

“Dari dulu, saya ingin sekali menjadi pemain Proliga dan pemain nasional, mendapatkan peringkat setinggi-tingginya di setiap kejuaraan yang saya ikuti, pasti bangga rasanya”, tutur pemuda yang menyukai klub asal Italia AC Milan ini.

“Dulu, seringkali saya berkhayal ingin seperti Aris, Joni atau Ayip, tidak menyangka mimpi tersebut terwujud, sekarang saya bisa bermain bersama mereka”, katanya.

Dibalik tempaan fisik yang diperolehnya setiap hari, pemuda yang gemar jalan-jalan ini mempunyai perasaan yang cukup halus.“Saya tidak susah kalau soal makanan, asal ada telur dan sambel, berangkat”, canda Veleg.

“Kalau makan yang enak-enak, apalagi sampai tidak habis, saya akan merasa bersalah dan menyesal”, tutur Veleg lagi.

“Saya teringat orang-orang yang tidak bisa makan, makanya saya tidak pilih-pilih makanan, apa saja saya mau”, lanjutnya.

* * *

Ketika ditanya siapa pemain voli idolanya, Veleg menjawab dengan mantap, “Joni”.“Selain permainannya yang bagus, diluar lapangan pun dia baik dan asyik”, demikian alasan Veleg.

“Walaupun dia senior, dia masih mau memberi nasihat, sehingga saya tidak sungkan untuk curhat sama dia”, ungkap Veleg.

Menyikapi penonton voli yang kerap mengelu-elukannya, Veleg menanggapinya biasa-biasa saja. “Selama kita tidak terlalu jaim dan tahu batas-batasnya, saya yakin para penonton dan penggemar juga memaklumi”, jabar Veleg.

Meskipun tengah berkonsentrasi penuh dengan voli, namun penyuka angka 4 ini tidak melupakan pendidikannya.Mengaku telat mendaftar, namun tahun depan dia berencana masuk kuliah.

“Pendidikan itu penting dan nomor satu. Voli itu, ibarat berjalan hanya menjadi jembatan. Karena untuk bermain voli hanya terbatas sampai usia tertentu, tidak sampai seumur hidup”, tukas Veleg.

Berbicara mengenai type cewek idamannya, Veleg mengaku tidak muluk-muluk. Pria yang tengah dekat dengan salah satu pemain voli juga ini menuturkan, “Saya menyukai cewek yang tinggi, tidak terlalu putih, rambut panjang, imut, dan baik”, ungkap pemain yang pernah didera cedera lutut yang cukup serius hingga harus dioperasi ini.

Kini Veleg tengah sibuk menjalani TC untuk Kejuaraan Junior Asia Tenggara. Kejuaraan tersebut akan dilangsungkan di Jember 9-16 November 2008. (ef)

Curriculum Vitae :

Nama lengkap : Veleg Dhany Ristan Krisnawan

Nama panggilan : Veleg / Dheny

Tempat / Tgl Lahir : 24 Okt 1990

Daerah asal : Kab. Pacitan, Kec. Donorojo

Tinggi / berat : 175 cm / 67 kg

Bapak : A. N. TuminoI

bu : Suprihatin

Anak ke : 4 dr 5 bersaudara

No. Punggung : 4

Pendidikan :

SMPN 1 DONOROJO

SMAN 1 PUNONG PACITAN

Klub :

2003 : IVOP Pacitan

2008 s/d sekarang : SAMATOR Surabaya

Prestasi :

2006 :

Kejuaraan Junior Asia

Juara 1 Kejurda Remaja, Batu Malang

Juara 1 Kejurda Junior, Bangkalan

Juara 2 Piala Gubernur, Surabaya

Juara 2 Kejurnas Junior, Magetan

2007

Juara 4 Kejurda Junior, nganjuk

Juara 1 Piala Gubernur , Surabaya

Juara 1 Kejurnas Junior, Sragen

Juara 1 Popwil, Nusa Tenggara Timur

Juara 1 Popnas, Samarinda

Juara 1 Piala Presiden, Jakarta

Eri Widiastuti Dari Basket Ke Voli

Tri Romndoni, Volimania Bogor- Sebagai open spiker, permainan Eri Widiastuti bersama Prayoga Unitas sampai saat ini cukup menjanjikan. Smash-smash kencang yang akurat dan tidak terduga menjadi senjata rahasia yang dimiliki gadis kelahiran kota Parahiangan ini

Gadis yang punya hobbi traveling dan nonton film ini ternyata sangat sulit untuk mengatur pola makannya. Terakhir gara-gara kebiasaan jeleknya itu, ia hampir saja tidak bisa turun bersama timnya karena terserang anemia.

"Kejadian kemarin benar-benar membuat saya kapok, dan dari situ saya tahu pentingnya mengatur pola makan," ucap gadis berparas manis itu.

Saat masih duduk di bangku SMP, olahraga yang ditekuni Eri saat itu ialah basket. Bahkan Eri sempat menjabat kapten tim di sekolahnya itu. Namun orangtuanya justru tidak memberikan restu mendalami olahraga kegemarannya itu.

"Saya sempat ngambek sama orangtua, tapi lambat laun akhirnya saya mau untuk menekuni voli," ungkap gadis berbintang Leo ini.

Setelah mengenal dan mau mendalami olahraga voli, akhirnya bakat alami Eri dalam dunia olahraga pun muncul. Sebelum ia memperkuat tim Bayi Ajaib, pada 2005 Eri direkrut Bank Jabar hingga tahun 2007, kemudian ia berlabuh di BNI Taplus Jakarta.

"Saya betah di sini. Kawan-kawan sudah saya anggap keluarga sendiri," tutur anak dari Widarusma dan Siti Zukaedah ini.

Setiap mengikuti latihan Prayoga Unitas di Cyber Campus, Eri sering mendapatkan dukungan lebih dari pendukung Prayoga. Menanggapi hal itu, Mojang Bandung yang mengaku masih jomblo ini tidak lantas jumawa (sombang) . Justru ia lebih fokus pada latihan bila ada yang menyoraki atau menggodanya.

"Saya malah terima kasih kalau saat ini ada pendukung Prayoga telah mengenal saya. Itu membuat motivasi saya saat berlatih semakin naik," pungkas Eri. (rp1)

Sumber: Radar Bogor

Muhamad Khasoni Mufid : Siap Membawa Pemkab Jember ke Final Four

Sepak terjang The Rising Star asal Jember Pemkab Muhamad Khasoni pada Proliga 2008 kali ini mendapatkan perhatian khusus dari para pengemar voli tanah air, terbukti lajang yang belum genap berusia 20 tahun ini terpilih untuk meramaikan All Star (tarung bintang Proliga 2008) yang akan digeber di Solo Jateng, 22 Maret 2008 ini.

Ayahnya lah, Bpk.Dur Rohtun Nasikin yang pertama sekali mengenalkan olah raga bola voli ini kepada pemain yang akrab dipanggil Soni itu. “Waktu itu, saya masih menuntut ilmu di kelas 3 SMP Negri 2 Pulo Kulon Grobogan”, kenang Soni. “Dan pertama sekali kenal dengan olah raga ini saya sudah langsung jatuh cinta”, ungkapnya.

Posisi sebagai open spiker sudah dilakoni pemain setinggi 187 cm ini sejak masuk club JVC Purwodadi tahun 2004. Khasoni jeli untuk memanfaatkan kelebihannya,yaitu jump atau lompatan yang tinggi. “Hal inilah yang menguntungkan saya menjadi seorang open spiker, tapi defend saya kurang bagus. Inilah kadang yang menjadi kelemahan saya”, sesal Khasoni.Namun dengan latihan yang terencana dan berkesinambungan saya akan memperbaiki kelemahan saya ini”, ungkap pengemar badminton ini

Mengaku kecewa karena pernah gagal tes masuk timnas voli Seagames 2007, namun kegagalan itu tidak membuat Khasoni putus asa.Dia berusaha memperbaiki kekurangan yang ada untuk persiapan jika suatu saat nanti dipanggil masuk timnas lagi. “Menjadi salah satu angota inti di timnas merupakan cita-cita saya”, harap pemain kelahiran 9 Oktober 1988 ini.

“Dan saya sangat berharap bisa masuk di line up 12 untuk pelatnas kualifikasi olimpiade yang akan berlangsung di spanyol pada tangal 30 Mei – 3 Juni 2008 mendatang”, lanjut Khasoni.

Ketika bertanding, kerapkali tekanan datang dari permainan yang kurang bagus, kerjasama tim yang kurang kompak, atau tekanan dari penonton maupun wasit. “Saya suka berlari dan berteriak untuk mengatasi tekanan mental dalam petandingan”, kata sulung dari 3 bersaudara ini.

Andri widiatmoko pemain panutan dan idola Khasoni. “Kemenangan 3-1 atas Bantul Yuso Tomkins waktu laga berlangsung di Bogor yang lalu merupakan pertandingan yang paling berkesan yang pernah saya jalani”, kata Khasoni.“Berkesan bagi saya karena saya bisa mengalahkan idola saya, dan merupakan kemenangan pertama yang di peroleh Pemkab Jember dari 4 pertandingan yang sudah dijalani selama putaran 1 di ajang Sampoerna Hijau Voli Proliga 2008.

Menghadapi putaran 2 Sampoerna Hijau Voli Proliga 2008 yang akan semakin panas ini, Pemkab Jember akan memperbanyak porsi latihan dan memperbaiki kerja sama tim (kekompakan). Soni berharap di putaran ke 2 nanti, tim Pemkab Jember bisa membuat hasil yang lebih baik, sebab tim ini walau baru terbentuk tapi diisi oleh pemain-pemain berpengalaman, yang sudah banyak merasakan atmosfer kerasnya persaingan dunia voli Indonesia.

Atlet yang selalu mengisi waktu senggang disela-sela pertandingan dan latihan ini dengan jalan-2jalan dan nonton dengan teman-teman satu dormitory ini menilai, Surabaya Samator merupakan tim paling diunggulkan dan yang paling solid di Proliga 2008, karena tim ini bertabur atlet pelatnas voli Indonesia.

Dukungan dari klub asalnya sangat besar dalam Khasoni mengikuti Proliga. “Bersyukur saya tidak mendapat hambatan atau halangan untuk meminta izin dari Indomaret (Club asal saya) selama mengikuti Proliga 2008”, ujar pemain yang bercita cita jadi MPV dan ingin membawa tim pemkab Jember masuk final four di Sampoerna Hijau Proliga 2008 ini.

Ketika ditanya tanggapannya mengenai penonton voli Khasoni menjawab, “Hmmmmmmm, baik, mengesankan, dan cukup ramah, terutama wanita,” ungkap Khasoni sambil tersenyum. Namun, Khasoni sedikit menyayangkan kurang dewasanya sikap segelintir oknum penonton waktu terjadi insiden di GOR Pangukan Yogyakarta.

“Mudah – mudahan insiden Jogja tidak akan terulang kembali dimasa datang, karena bagaimanapun sebisa mungkin semua ingin memberikan permainan voli yang baik dan menarik untuk bisa dinikmati dan memuaskan pencita voli tanah air”, demikian Khasoni berharap untuk kemajuan voli Indonesia.

Bravo Soni, kejar dan teruslah berusaha mengapai cita-citamu, karena dengan bercita cita dan berusaha, hidup akan semakin lebih baik dari yang kemarin.

Biodata :

Nama Lengkap : Muhamad Khasoni Mufid

Nama Pangilan : Soni

Tempat/Tgl Lahir : Grobogan Jateng, 9 Oktober 1988

Tinggi/Berat : 187/75

Hobby : Jalan-jalan dan nonton

Makanan Favorit : Semua makanan yang ditusuk (sate)

Ayah : Dur Rohtun Nasikin

Ibu : Sri Ati

Anak : 1/3 bersaudara

Motto : Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin

No punggung : Pemkab Jember Proliga (7) Indomaret (11)

Club Asal : Indomaret Sidoarjo

2004 – Juni 2006 : JVC Purwodadi

Juni 2006 – Sekarang : Indomaret Sidoarjo

Arrange by : donny

Berlliana Marsheilla, Impian Calon Penyiar

Selain jadi pemain bola voli, mimpinya tertambat pada pekerjaan menjadi penyiar.

Jantung aktivitas gadis belia itu selalu berdenyut sejak pagi tiba. Saat kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, masih berselimut udara dingin, kadang-kadang juga kabut, Berlliana Marshella--gadis itu--menyambar sepatu dan kostum latihannya.

Beberapa menit kemudian dia sudah berlari menembus pagi, di tengah rindangnya pepohonan menuju gedung latihan bola voli yang tak jauh dari asramanya. Di sinilah dia berlatih selama dua setengah jam. Itulah menu "sarapan" saban pagi.

"Saya akan terus main voli," katanya kepada Tempo. "Mungkin sampai bola pecah baru berhenti."

Sheilla, begitu dia biasa dipanggil, terobsesi pada olahraga voli sejak sekolah menengah pertama. Angan-angannya sejak dulu adalah terjun di SEA Games 2007 dan Pekan Olahraga Nasional 2008. Demi cita-citanya itu, Sheilla sudah menyerahkan separuh napasnya untuk voli. Pagi hari dia menjalani gemblengan bersama pelatih. Kemudian gadis yang mengidolakan pemain voli Jakarta BNI Taplus, Uus Usansyah, ini bersekolah hingga sekitar pukul 12 siang.

Ia mengisi jeda waktu sepulang sekolah menjelang latihan sore dengan tidur. Malamnya, kembali ia berlatih memukul bola voli sampai capai.

Semua itu dilakoni oleh dara kelahiran Jakarta, 22 Desember 1989, tersebut demi meraih target terbesar sejak masih di SMP, yaitu mewakili DKI Jakarta di PON XVII.

"Dari SMP, saya sudah sangat ingin ikut SEA Games 2007 dan PON 2008. Sekarang SEA Games sudah ikut, tinggal PON," kata penggemar semua makanan yang terbuat dari telur ini.

Setelah PON di Kalimantan Timur, Juni mendatang, Sheilla tidak terlalu peduli apakah ia akan terus dimainkan atau tidak. Yang terpenting cita-cita tercapai. "Syukur kalau DKI juara, jadi banyak tawaran," ujar putri pasangan Kartam Kustiana dan Dermiati Siregar ini. Tawanya berderai.

Sheilla kini adalah andalan klub voli Jakarta Electric PLN. Di klub ini dia menjadi pemain serba bisa. Sebelumnya, dia pernah bergabung dengan Jakarta Bank DKI pada Proliga 2005 dan 2006 serta Jakarta Popsivo Polwan pada Proliga 2007.

Jakarta Electric menjadi "pelabuhan" terakhir Sheilla karena lokasi latihannya dekat dengan sekolahnya. "Saya sudah kelas III, jadi pagi tetap sekolah, sore baru latihan," kata pemain tim barat dalam laga All Stars Proliga 2008 di Solo akhir pekan ini tersebut.

Menjadi atlet di negeri ini berarti siap hidup susah. Sheilla tahu konsekuensi itu. Ia sudah melihat atlet-atlet yang dulu berjaya tapi setelah pensiun hidupnya biasa-biasa saja. Itu semua tak mengendurkan niatnya untuk tetap hidup dari dunia voli.

Menurut penggila belanja ini, sekarang sudah banyak perusahaan yang mencari pegawai dari jalur voli. PLN juga sudah menawarinya pekerjaan. Di PLN, misalnya, menurut dia, atlet bisa hidup enak dengan bergabung di perusahaan ini. Sebulan, katanya, bisa dapat dua kali gaji, gaji pegawai dan gaji atlet. Tapi, "Saya ingin menjadi artis. Duitnya banyak. Yang (berparas) jelek saja bisa jadi artis, ha-ha-ha...."

Sheilla adalah gadis normal dan tahu diri. Atlet di negeri ini mustahil bisa seperti Anna Kournikova, atlet perempuan dengan bayaran tertinggi di planet. Dia juga tak digaet sponsor tajir Motorola, yang rela merayakan ulang tahun Kournikova ke-18 dengan pesta mewah di klub malam Manhattan dengan band penghibur Maroon 5. Bola voli tak bakal membuatnya bertahan. Itulah sebabnya, ia bermimpi menjadi artis.

Dan gadis ini punya sedikit modal untuk jadi artis. Setidaknya, tubuhnya atletis serta cukup jangkung untuk ukuran gadis Indonesia. Tinggi badannya 170 sentimeter.

Dia juga mengaku memang senang cuap-cuap. "Profesi presenter tampaknya cocok untuk saya," ujar Sheilla. Senyumnya terlihat manis.

Impiannya menjadi presenter ini meletup-letup sejak dia menyaksikan sebuah mini seri dari Jepang, Anchor Woman. Ini adalah kisah hidup Asou Tamaki (diperankan Suzuki Honami), sang penyiar berita di stasiun TV Channel 2. "Keren sekali penampilannya," ujar Sheilla. Acara itulah yang memupuk impiannya untuk menjadi presenter.

Sheilla punya modal lain untuk menjadi presenter, selain punya paras menarik dan tubuh jangkung, yakni jahil, centil, dan cerewet. Saking jahilnya, teman-temannya menjulukinya setan.

Sheilla masih mengenang pada kejadian lucu sepulang bertanding di Gedung Olahraga Pangukan, Sleman, Maret lalu. Ia dan kawan-kawan pergi makan ke sebuah restoran di Yogyakarta. Setelah makan, para pemain Electric berdiri di bawah pohon pendek tapi rimbun. Pohon tersebut rupanya menampung banyak air setelah hujan. Keisengannya pun muncul. Ia menggoyang pohonnya dan semuanya langsung basah.

Sikap iseng, jahil, dan penuh canda adalah pelipur hati Sheilla, terutama setelah ia didera latihan yang berat sepanjang minggu. Ia memang menjalani kehidupan ini dengan penuh canda, bahkan saat ditanya soal kekasih hati.

"Ini sudah pacar kelima," katanya dengan enteng. "Coba tanya orang lain pasti sudah lebih dari sepuluh. Saya baru lima, ya, alhamdulillah, ha-ha-ha...," kata pemilik nomor punggung sembilan ini. Ah, Sheilla.

Sumber: Koran Tempo

Barb Bellini Sulit Bernapas karena Panas

Dengan pengalaman sebagai pemain voli selama hampir 16 tahun, wajar bila Barb Bellini (31) diharapkan pelatih Jakarta BNI Taplus sebagai kapten tim. Bellini pun menjadi satu-satunya pemain asing yang menyandang ban kapten di Proliga 2008.

Saat ini prestasi Jakarta BNI Taplus memang belum terlalu mengkilap. Dari lima kali bermain, pemain nasional Kanada ini baru mampu memberi tiga kemenangan untuk timnya. Hasil ini menempatkan BNI Taplus di posisi keempat klasemen sementara.

Bellini memulai karier voli saat berusia 15 tahun. Ia mengaku tertarik bermain olahraga ini karena senang berkompetisi dan bekerja sama dalam sebuah tim.

Bakatnya pun makin terasah ketika duduk di bangku kuliah dan bermain untuk tim voli putri University of British Columbia (UBC), Vancouver, Kanada.

Kelebihan pemain yang bercita-cita menjadi guru ini terletak pada akurasi dan kekuatan pukulannya. Berkat bakat dan pengalamannya, power hitter alias open spiker yang mengaku tak punya pemain voli favorit ini berhasil masuk tim nasional Kanada di tahun 1998.

Selain bermain di Kanada, Bellini juga sempat menjajal kompetisi-kompetisi di Eropa dan Amerika Latin, seperti Prancis, Puerto Rico, Portugal, dan Italia.

Sering berada jauh dari keluarga dan teman-temannya tak membuatnya sedih atau kesepian. “Semua keluarga dan teman mendukungku, terutama untuk karier di voli,” jelasnya.

Meski begitu, bukan berarti Bellini tidak mengalami kendala di negara-negara baru yang ia singgahi. Cewek yang juga bermain voli pantai ini mengaku saat baru tiba di Indonesia ia mengalami kendala beradaptasi dengan cuaca dan iklim yang berbeda jauh dengan Vancouver, kota asalnya. “Sempat mengalami kesulitan untuk bernapas karena udara di sini sangat panas,” tuturnya.

Tapi, Bellini mengaku sangat senang berada di Indonesia. Masyarakatnya ia nilai baik dan ramah. Bahkan rekan-rekan setimnya pun membantunya beradaptasi, terutama untuk urusan bahasa. “Aku mungkin hanya bisa lima kata dalam Bahasa Indonesia,” katanya sambil tersenyum.

Ia berharap dapat membawa Jakarta BNI Taplus masuk ke babak final four dan menjadi juara Proliga 2008. “Lawan terberat adalah Surabaya Bank Jatim dan Jakarta Electric PLN,” ujarnya. (cw5)

DATA DIRI
----------------------------
Nama Lengkap: Barb Bellini
Tanggal Lahir: 14 Maret 1977
Tinggi/Berat Badan: 186 cm / 72 Kg
Posisi: Power hitter
Pengalaman Timnas:
- PAN American Games 1999
- World Championships 2001
- Grand Prix of 2003
- Numerous NORCECA Tournaments
- Olympic Qualifying Tournaments
Prestasi:
- Juara Pertama 2007 Vancouver Molson Open (voli pantai) bersama Joanne Ross.
- Juara Pertama 2007 Open 2’s Division-Women Seaside Chamber of Commerce (voli pantai) bersama Joanne Ross.
- 1999–2000 CIS (Canadian Interuniversity Sport) Tournament All Stars.
- 1997 – 1999 Canada West All Stars First Team.

Sumber : Bolanews.com,

Loudry Maspaitella, Selalu Siap Bila Dipanggil

Umpan-umpan Loudry Maspaitella di lapangan selalu memudahkan seorang spiker menyelesaikan tugasnya meraih angka. Bahkan, aksi Loudry saat mengumpan kerap membuat decak kagum para penonton.

Kerendahan hati. Itulah yang menjadi kunci utama bagi Loudryans Arison Maspaitella atau Loudry Maspaitella selama berkarier di dunia bola voli Indonesia. Tak heran, jika pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 September 1969, ini mampu bertahan hampir 23 tahun sebagai pemain tim nasional di posisi tosser atau pengumpan.

Loudry menjelaskan, mengapa seorang tosser harus rendah hari karena posisi tersebut tak jauh beda dengan pelayan. Karena itu, tugas utama pengumpan adalah mampu membaca selera atau sifat dari lima rekan timnya dengan cepat. "Permintaan mereka apa, harus kita layani," kata Loudry.

Sebab jika seorang tosser masuk dalam satu tim dengan membawa egonya sendiri, maka tim tersebut dipastikan akan bubar, kata Lourdy. Pasalnya, ego dia tak akan bisa sejalan dengan kemauan kelima rekan timnya yang sudah pasti berbeda. Tak heran, jika melatih seorang pengumpang menurut Loudry lebih sulit dibandingkan dengan spiker. Jadi tidak perlu kaget, ucap Loudry, jika timnas voli krisis tosser.

Loudry mengaku, sejak bergabung bersama tim nasional junior voli sejak 1984, dia sama sekali tidak pernah berlatih spesialis sebagai seorang tosser. Baru, saat timnas voli dilatih Li Qiujiang asal Cina, Loudry berlatih spesialis tosser. Maklum saja, posisi Mr Li saat masih menjadi pemain adalah seorang tosser. "Makin terasa kemampuan saya," kata Loudry.

Tak hanya kepada pemain seusianya atau yang lebih senior, terhadap pemain junior pun Loudry berusaha selalu rendah hati. Bahkan, lulusan pascasarjana program Administrasi Kebijakan Bisnis Universitas Indonesia ini tak canggung untuk berbauh dengan mereka. "Karena saya tahu mereka bermain dengan saya juga memiliki beban mental seperti yang pernah saya alami," tutur Loudry.

Sebenarnya, Semasa kecil Loudry tidak bercita-cita ingin menjadi pemain voli. Dia justru ingin menjadi pemain sepakbola. Karena itu, waktu duduk di sekolah menengah pertama, Loudry bergabung dengan salah satu klub sepakbola di Jakarta.

Bukan hanya sepakbola dan voli yang dikuasai Loudry. Tenis meja, basket, bulutangkis, dan olahraga lainnya pun bisa dimainkan Loudry. "Tapi yang paling suka sepakbola," tutur pria tiga orang anak ini. Kebisaan Loudry dalam beberapa cabang olahraga tak terlepas dari tempat tinggalnya di daerah Rawamangun, Jakarta Timur, atau kini bernama komplek Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Rawamangun.

Keterlibatan Loudry dalam bola voli bermula saat mengikuti kejuaraan bola voli yunior se-Kotamadya Surabaya. Loudry tampil dalam kejuaraan tersebut setelah diminta oleh sang ayah, Leonard Jonas Maspaitella, agar mau menjadi tosser di klubnya. Loudry pun setuju. Selesai kejuaraan, Loudry pun kembali berlatih sepakbola.

Namun tanpa sepengetahuan Loudry, kejuaraan tersebut ternyata juga sebagai ajang seleksi untuk Pekan Olaharaga Pelajar Seluruh Indonesia (Popsi). Dan Loudry pun terpilih mewakili Jatim di cabang bola voli. Setelah Popsi selesai, lagi-lagi Loudry kembali ke sepakbola.

Tapi tak lama berselang, Loudry yang saat itu duduk di bangku kelas dua SMP ternyata terpilihmasuk tim nasional junior. Di sinilah dia mendapat arahan dari sang ayah. Ketika itu, Leonard mengatakan, kalau Loudry tetap memilih sepakbola, peluang masuk timnas belum terlihat. Sedangkan di voli, dia sudah pasti menjadi pemain timnas. "Akhirnya saya memilih voli," ucap peraih empat medali emas Sea Games ini..

Di usia 14 tahun, Loudry sudah menjadi pemain timnas junior. Hampir enam tahun Loudry berada di timnas voli junior. "Sebenarnya saya sudah ingin dipakai di senior, tetapi ketika itu masih ada Chandra Alim," jelas Loudry. Dia pun akhirnya tetap di timnas junior hingga akhir 1990-an. Apalagi, ketika itu timnas junior juga belum punya tosser selain Loudry.

Bagi Loudry, menjadi seorang tosser mempunyai kenikmatan tersendiri dibandingkan spiker. "Enak melihat teman menyelesaikan umpan kita," tutur Loudry bangga. Meski tosser yang selalu mendapat pujian jika meraih poin, itu tidak membuat Loudry iri. "Bisa menyenangkan teman, apalagi kalau tim menang, itu kepuasan tersendiri," tambah karyawan Bank Negara Indonesia ini.

Sikap itulah yang membawa Loudry terus menjadi nomor satu timnas. Bahkan meski sudah mengundurkan diri, dia kembali dipanggil mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) Sea Games 2007 di Thailand. Walau akhirnya tidak jadi ikut ke Sea Games.

Ya, dengan voli, Loudry sudah mendapatkan segala-galanya. Jalan-jalan gratis ke luar negeri dan mendapat pekerjaan. "Bahkan, sampai saya bisa dikenal orang dan mendapat istri juga karena voli," tegas Loudry bangga. Tak hanya itu, Loudry yang beberapa kali dinobatkan sebagai tosser terbaik Sea Games ini juga pernah mendapat tawaran dari salah satu klub voli di Jepang. Tetapi tawaran itu dia tolak. "Waktu itu saya belum berpikir menggeluti secara profesional," tutur dia.

Atas apa yang diperolehnya berkat voli, dia merasa selalu siap jika dibutuhkan Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) untuk membantu timnas, terutama melatih tosser. "Seperti ada tanggung jawab moral dalam diri saya," ucap Loudry yang sangat mengidolakan Imam Agus Faisal atau Fafa.

Dikarunia dua putri dan satu putra buah pernikahannya dari R. Fortina Maulina Pasaribu yang juga pemain timnas voli, Loudry mengaku tidak mau memaksakan ketiga anaknya itu mengikuti jejak sang ayah. Menurut Loudry, ada anaknya yang berbakat di atletik. Karena itu, jika sang anak kepingin, dia akan meminta sang kakak, Lourina Henriette Maspaitella yang menjadi pelatih atletik Jatim dan Indonesia, untuk melatih keponakannya.

Loudry mengungkapkan, jika berbicara voli kepada anaknya, mereka akan trauma. "Sebab begitu ngomong voli, berarti yang ada berpisah dengan papanya," jelas dia. Karena itu, setiap libur Loudry selalu mengajak anak-anaknya jalan-jalan. "Hitung-hitung menebus utang kepada anak-anak saya sewaktu saya menjadi pemain," jelas Loudry.(Bogi)