Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Voli Ingin Pertahankan Tradisi Medali di SEA Games

| 0 komentar

JAKARTA - Pelatnas bola voli yang disiapkan ke SEA Games Laos bulan Desember mendatang harus dilaksanakan sejak jauh-jauh hari. Pelatnas lebih dini diakui oleh Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP-PBVSI Heyzer Harsono semata-mata untuk lebih memfokuskan pada kekompakkan tim untuk mempertahankan medali di SEA Games Laos bulan Desember mendatang. "Tradisi medali di cabang voli harus kita pertahankan, untuk itulah kami melaksanakan Pelatnas lebih awal dari jadwal KONI Pusat," ungkapnya di Sekretariat PP-PBVSI, Selasa (5/5).

Dikatakannya, untuk tahap awal menggelar Pelatnas ini, pihaknya mendapat bantuan selama Pelatnas dari pihak Samator dan Petrokimia. "Nanti kalau sudah pihak KONI Pusat melaksanakan Pelatnas, baru kami gabung dengan KONI termasuk dana selama Pelatnas," tuturnya.

Tradisi medali diakuinya harus tetap dipertahankan mengingat prestasi voli Indonesia sudah mulai disegani di kawasan Asean, terutama di kelompok putra, baik itu di voli indoor atau di voli pantai. "Tradisi medali emas voli indoor putra harus tetap kita pertahankan dong, begitu juga di voli pantai, tetapi untuk voli indoor dan pantai putri, kami targetkan masuk final," paparnya.

PP-PBVSI melakukan Pelatnas lebih awal SEA Games Laos selain untuk lebih kekompakkan tim Pelatnas, juga untuk persiapan babak kualifikasi Piala Dunia Bola Voli Pria tanggal 9 hingga 11 Juni mendatang di Thaiand.

"Di babak kualifikasi ini nanti kita akan menghadapi Arab Saudi pada tanggal 9 Juni, kemudian tanggal 10 Juni menjajal kekuatan runner-u Grup B dan belum diketahui, dan tanggal 11 Juni melawan tuan rumah Thailand," kata Heyzer.

Dijelaskannya, tim Indonesia sudah lebih dahulu lolos dari kualifikasi awal. "Nanti di Thailand itu, jika kita berhasil menang dua kali, tentu kita langsung lolos ke putaran final Piala Dunia yang jadwalnya belum kita terima," katanya.

Selain tim putra yang akan disiapkan ke berbagai kejuaraan baik itu kualifikasi Piala Dunia, kejuaraan Asia, PP-PBVSI diakui Heyzer juga menyiapkan tim bola voli indoor putri. "Tim putri juga kami siapkan ke kejuaraan Asia di Thailand, tanggal 1 hingga 8 Juli mendatang dan kejuaraan Asean senior di Filipina," ujarnya.
Sumber :Tribun Jabar

Kiat Amelia Fajrin Siasati Benturan Jadwal Pelatnas Voli dengan UAS

| 0 komentar

Ujian akhir semester (UAS) selalu menjadi momen krusial bagi setiap siswa. Tak jarang mereka berupaya mengerem aktivitas di luar sekolah demi mempersiapkan diri menghadapi momen itu. Sayang, penggawa timnas voli indoor Amelia Fajrin tidak melakukannya dengan sempurna.

RACHMAD SETIAWAN, Gresik

---

CUACA di sekitar GOR Tri Dharma, Gresik, sudah terik. Tapi, gedung berkapasitas lima ribu penonton tersebut belum juga lengang hingga sekitar pukul 11.00. Suara peluit, teriakan, dan bunyi pantulan bola masih menggema di setiap sudut gedung itu.

Udara siang yang mulai membuat gerah belum melemahkan semangat tim pelatnas voli indoor wanita untuk berlatih. Mereka masih bersemangat berlatih di bawah asuhan pelatih asal Tiongkok Wang Jun. Di antara para pemain, Amelia Fajrin tampak menonjol.

Jika dibandingkan dengan rata-rata tinggi badan pemain lainnya, pevoli kelahiran Bekasi, Jawa Barat, tersebut memang tergolong tinggi, 175 sentimeter. Ukuran tubuh itu terlihat cukup membantu Amelia dalam melakukan tugasnya sebagai open spiker.

Maka, tak jarang pula spike tajam hadir dari pukulan siswi kelas I SMA 3 Bekasi tersebut.

Sebenarnya, Amelia belum berpikir sepenuhnya soal masa depan. Berkarir di jalur voli atau di luar itu. Dia hanya ingin melewati masa-masa remajanya dengan kegiatan positif. Bahkan, Amelia juga masih menyimpan harapan untuk kuliah ketika lulus nanti.

Namun, bakat dan kemampuan Amelia menggiringnya pada dua dilema. Di satu sisi, kemampuannya dalam olahraga bola voli terhitung brilian. Di sisi lain, kepentingan pendidikan tidak bisa dia kesampingkan. Hal itulah yang membuat hari-hari Amelia sangat padat akhir-akhir ini.

"Di sela berlatih di pelatnas, saya harus tetap belajar," katanya.

Bahkan, tak ada pesta atau perayaan kecil-kecilan sekalipun ketika Amelia berulang tahun. Pada 16 April lalu, usia pevoli jebolan klub Vortal Bekasi tersebut genap 15 tahun. Tapi, saat itu bertepatan dengan hari pertama dia bergabung di pelatnas Gresik kali ini. "Jadi ya tidak ada pesta," ucap Amelia sembari tersenyum.

Sebenarnya, pada 8 Juni nanti, Amelia harus berada di Bekasi untuk mengikuti UAS. Tapi, hal tersebut sepertinya sulit terwujud. Sebab, sesuai dengan jadwal, saat itu adalah hari terakhir pelatnas turun di kejuaraan antarklub Asia di Nakhonpanthom, Thailand. "Terpaksa saya harus meminta izin dan mengikuti ujian susulan," ujarnya.

Meski demikian, Amelia tak ingin konsentrasinya buyar dan akibatnya rapornya merah. Dia mengakui bahwa selama bergabung di pelatnas, waktunya lebih banyak digunakan untuk berlatih daripada belajar pelajaran akademis. Belum lagi waktu yang dia luangkan untuk istirahat cukup.

Karena itu, Amelia berupaya meluangkan waktu sekitar dua jam setiap hari untuk belajar. Sebenarnya, pevoli yang pertama bergabung di pelatnas pada usia 13 tahun tersebut menyadari, dua jam waktu belajar dalam sehari masih kurang. "Apalagi sudah absen sejak sebulan lalu," terangnya.

Kurangnya waktu belajar terasa, terutama, jika berbicara soal pelajaran fisika. Gadis dengan berat badan 60 kilogram itu menyatakan sering tidak mengikuti pelajaran tersebut. "Baru saja ikut pelajaran, eh sudah absen lagi," ujarnya. Karena itu, Amelia tak segan-segan untuk meminta bantuan seniornya di pelatnas jika sudah bersinggungan dengan pelajaran yang susah baginya.(Jawa Pos)

Henny Dimanja, Loudry Dipaksa

| 0 komentar

KELUARGA Maspaitella menghiasi belantika olahraga di tanah air. Leo Maspaitella pernah sukses sebagai atlet bola voli dan lari. Istrinya, Paulina, adalah salah satu andalan Indonesia pada pesta olahraga Ganefo 1962 di Jakarta. Darah atlet pasangan itu turun kepada dua anak mereka, Henny Maspaitella dan Loudryans Maspaitella. Henny dikenal sebagai mantan ratu atletik Indonesia, sementara Loudry adalah salah legenda bola voli Indonesia.

Latihan ekstrakeras serta disiplin tinggi menjadi kunci sukses Henny dan Loudry. ''Selain itu, rahasianya adalah menghilangkan status orang tua dan anak pada saat latihan. Anak-anak tetap harus berlatih ekstrakeras meskipun orang tuanya pelatih,'' ungkap Leo.

Memang tidak mudah menjaga hubungan ayah dan anak saat proses latihan. ''Anak-anak sering protes. Terutama Henny. Dia paling rewel dan manja kalau latihan keras sedikit. Mungkin karena dia wanita sehingga pinginnya tidak latihan yang keras," ungkapnya.

Tapi, hal itu tak membuat Leo mengubah pola latihan. Dia justru memberikan hukuman bila anak-anaknya tidak disiplin. Sanksi itu biasanya berupa tambahan porsi latihan. Hal itu sekaligus untuk menguatkan mental.

''Saya merasa pola latihan yang saya terapkan memang benar. Latihannya memang keras, tapi tidak ngawur. Ini yang harus dibedakan. Keras bukan berarti ngawur,'' kata Leo.

Meski tegas, Leo tak memaksakan kehendak agar kedua anaknya menekuni profesi sebagai atlet. Pilihan itu murni datang dari hati kedua buah hatinya tersebut. Untuk Loudry, Leo memang memaksa sang putra berlatih voli. Itu karena dia melihat Loudry punya bakat di olahraga tersebut.

''Kalau Henny, sejak awal dia memang memilih atletik. Dia ingin namanya disebut jika menajadi juara. Kalau Loudry, awalnya dia memilih sepak bola. Saat itu saya tak melihat bakat Loudry sebagai pesepakbola, tapi sebagai pemain voli. Karena itu saya beri pengertian kepadanya agar menekuni voli,'' papar Leo.
Sumber:Jawa Pos

Putri Kota Cimahi Bidik Final Kejurda Bola Voli Junior 2009

| 0 komentar

Tim bola voli putri Kota Cimahi ditargetkan menembus final dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Bola Voli Junior 2009 di GOR Bima Cirebon, mulai Selasa (19/5) hingga Sabtu (23/5). Pada pertandingan perdana Kota Cimahi akan menghadapi Kab. Bandung Barat (KBB), Selasa (19/5) mulai pukul 09.00 WIB.

"Dalam even yang sama tahun lalu, tim bola voli putri Kota Cimahi menempati peringkat ketiga. Untuk tahun ini, kami optimis bisa memperbaiki peringkat, bahkan bisa masuk final. Untuk bisa menjadi juara memang sangat berat. Tidak mengecilkan daerah lain, tapi realitis saja, saat ini putri Kota Bandung masih yang terkuat," jelas Ketua Umum PBVSI kota Cimahi, H. Enang Sahri Lukmansyah di Jln. Cihanjuang Cimahi, Senin (18/5).

Pada kejurda tahun ini selain KBB, tim putri Kota Cimahi tergabung di Grup A bersama Kab. Majalengka dan Kab. Indramayu. Sementara tim putra Kota Cimahi tergabung di Grup B bersama Kab. Ciamis, KBB, Kab. Majalengka, dan Kab. Bekasi.

Berbeda halnya dengan putri, untuk kelompok putra, Enang menyebutkan kalau Kota Cimahi tidak dibebani target masuk final. Ia mengakui kalau persaingan di kelompok putra, kekuatan Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bogor, dan Kab. Cirebon pantas diunggulkan.

"Tapi anak-anak, terutama di kelompok putra siap memberi kejuatan dalam kejurda kali ini. Hanya saja tim putra tidak kami bebani target hingga masuk final. Yang penting lolos dulu dari babak penyisihan grup," sambung Enang.

Dilepas Itoc

Sementara itu keberangkatan tim bola voli Kota Cimahi ke Cirebon kemarin pagi, dilepas Wali Kota Cimahi, Ir. H.M. Itoc Tochija dan Wakil Wali Kota, Eddy Rahmat di Kantror Wali Kota Cimahi, Jln. Cihanjuang. Selain itu, hadir juga dalam pelepasan tersebut pengurus KONI Cimahi yang diwakili Sekretaris Umum, Toto Suharto dan pengurus PBVSI Kota Cimahi.

"Dengan segala keterbatasan yang ada, termasuk minimnya dana, kami berharap tidak membuat para atlet berkecil hati saat bertanding nanti. Justru para atlet harus memperlihatkan semangat dan motivasi tinggi untuk membela Kota Cimahi dalam meraih prestasi maksimal di Cirebon," kata Itoc.

Untuk menghadapi Kejurda Junior tahun ini, tim putri Kota Cimahi ditangani pelatih, Robby Chandra dan Didin. Sementara tim putra diarsiteki Adios dan Anton dengan pelatih kepala Agustinus. (B.94)**
Sumber : Galamedia

Pemain Muda, Dominasi Pelatnas SEA GAMES 2009

| 0 komentar

Pelatnas Bola Voli Putra dan Putri proyeksi SEA GAMES 2009 telah dimulai sejak 4 Mei 2009 lalu, sebanyak 16 pemain putra da 18 pemain putri siap bersaing untuk dapat menjadi 12 terpilih (masing-masing untuk putra dan putri) yang akan mewakil Indonesia pada SEA GAMES Laos, Desember mendatang.

Pada sektor putra dari 16 pemain yang dipanggil Pelatnas , tercatat nama-nama seperti Affan Priyo , Didi Irwandi, Fadlan Abdul Karim, Riviansyah,Rudi Tirtana dan Ayip Rizal yang pada SEA GAMES 2007 lalu berkontribusi membawa pulang medali emas bagi kontigen Indonesia.

Selain enam nama yang telah disebutkan diatas, sisanya adalah pemain-pemain muda yang penampilannya dinilai konsisten pada gelaran Livoli dan Proliga lalu. Kesepuluh pemain muda tersebut adalah Khasoni Mufid, Agung Seganti, Mahfud Nurcahyadi, Adam, Bagus Wahyu (Jawa Timur), Antho Bertiyawan, Ramzil Huda dan Nurcahyo Prabowo (DI Yogyakarta), Andri (SumSel) dan Septio Hadi (DKI Jakarta).

Seluruh pemain putra tersebut telah menjalani Pemusatan Latihan dibawah asuhan pelatih Li Quijang asal China sejak awal Mei lalu di markas klub Surabaya Samator.

Sementara itu disektor putri pemain yang dipanggil Pelatnas sebagian besar diisi oleh nama yang memperkuat Indonesia pada Kejuaraan Junior Asia Tenggara, November lalu. Mereka adalah Novia Andriyanti, Lailatul Aisyah, Maya Kurnia Indri, Maya Puspita (Jawa Timur), Amalia Fajrina, Agustin Wulandari, Yolla Yuliana, Novriali Yami, Zahra,Mela Marshelia, Lina Apriliana (Jawa Barat), Deti Fitriana, Tiara Putri (DI Yogyakarta), Netty Diah (JaTeng), Berliana Marshella, Elsa (DKI Jakarta), Yunita (KalTim), dan Sari.

Tim putri sendiri berada dibawah asuhan pelatih yang juga berasal dari China, yakni Wang Jun, dan tengah menjalani pemusatan latihan dimarkas Gresik Petrokimia.

Pemanggilan beberapa pemain muda untuk menjalani Pelatnas SEA GAMES 2009, disambut baik oleh beberapa pihak karena selain mengusung misi mempertahankan Tradisi Emas dari cabang Bola Voli, masuknya para pemain muda juga bertujuan untuk regenerasi sehingga dimasa yang akan datang akan muncul pemain-pemain handal yang bisa membawa Voli Indonesia lebih berprestasi lagi tidak hanya ditingkat Asean tapi juga ditingkat Olimpiade.

Voli Indoor Merah Putih Jalani Skenario Awal

| 0 komentar

JAKARTA - Pelatnas voli indoor Indonesia telah berjalan. Mereka bahkan memiliki agenda penting bulan depan sebelum terjun langsung ke SEA Games (SEAG) 2009, Laos.

Di sektor putra, kualifikasi Kejuaraan Dunia di Thailand, 9-11 Juni mendatang. Lalu, Kejuaraan Asia di Uni Emirate Arab, 17-24 Juni 2009 akan dijadikan batu loncatan sebelum ke Laos.

Sedangkan tim putri akan bertarung di Kejuaraan Asia di Thailand, 1-8 Juni 2009. Karena itu, kedua tim Merah Putih itu telah intens menjalani persiapan di Surabaya (putra) dan Gresik, Jawa Timur (Jatim), untuk tim putri.

Bahkan, mereka terus menggenjot persiapan meski pelatnas voli indoor mayoritas disokong oleh dua perusahaan besar di Jatim. Manajer Voli Indoor Indonesia Heyzer Harsono menjelaskan, pihak KONI Pusat sebenarnya telah memberi dana pelatnas.

Namun, induk organisasi olahraga Indonesia itu hanya memberikan dana untuk 12 pemain dan 2 pelatih. Padahal, pihaknya mencatat terdapat 18 pemain putra-putri, plus tiga pelatih disetiap timnya.

"Tidak mungkin kami menyiapkan 12 pemain. Jadi, kami tetap menjalani pelatnas dengan 18 pemain dengan risiko sisa pemain lainnya bayar sendiri," ujar Heyzer. (Edi Yulianto/Koran SI/hmr)

Cara Pasangan Voli Andy/Koko Atasi Recovery

| 0 komentar

JAKARTA - Pasangan voli pantai Indonesia Andy Ardiansyah/Koko Prasetyo punya strategi mengantisipasi minimnya recovery. Mereka akan melakoni rotasi tempat sebagai solusinya.

Menurut Koko, pihaknya tak perlu ngotot mengeluarkan tenaga penuh saat tampil di laga perdana Kejuaraan Voli Pantai Asia Pasific di Bangka Belitung (Babel), 19-22 April 2009. Apalagi, mereka masih letih setelah baru saja melakoni pertandingan berat di Thailand.

Karena itu, mereka akan bermain cerdik menghadapi lawan di babak pertama. "Kami belum mendapati lawan karena baru di drawing malam ini," ungkap Koko.

"Yang penting, kami telah diberi instruksi jitu dari pelatih agar tak mengalami masalah akibat minimnya recovery," cetus Koko, Sabtu (18/4/2009).

Strategi itu adalah memanfaatkan perpaduan mereka di depan net. Artinya, Andy dan Koko bisa menutupi kelemahan masing-masing. "Biasanya di depan net itu Andy, tapi mungkin akan sedikit berubah nantinya," tambahnya. (Edi Yulianto/Koran SI/hmr)

Poin Pertama Andy/Koko di Babel

| 0 komentar

JAKARTA - Pasangan voli pantai Indonesia Andy Ardiansyah/Koko Prasetyo mengemas poin penuh di Kejuaraan Voli Pantai Asia Pasific di Bangka Belitung (Babel), Minggu (19/4/2009).


Tim Indonesia 1 itu merebut kemenangan sempurna atas pasangan Hong Kong 1 Wong Chung Tak/Tse Sze Ho 2-0 (21-13, 21-8). Prestasi itu membuat langkah Andy/Koko makin ringan menembus babak single elimination.

Slamet Mulyanto selaku pelatih Andy/Koko menjelaskan, kemenangan anak asuhnya dari pasangan Hong Kong tak lepas dari kepercayaan mereka tampil agresif mulai set awal.

"Mereka terlihat tak memperdulikan masalah stamina meski sempat kedodoran karena minimnya recovery usai tampil di Thailand. Itu membuktikan mereka tak mengalami masalah dan siap mengamankan gelar di kandang," kata Slamet, Minggu (19/4/2009).

Sementara Koko mengaku perjuangan pihaknya masih terjal meski mengemas kemenangan penting di pertandingan awal. Mereka berharap konsentrasi tak putus, terutama menghadapi unggulan seperti Iran, Jepang, hingga Thailand. (Edi Yulianto/Koran SI/fmh)

SBJ Ancam Bubarkan Diri

| 0 komentar

Pemain tak Diijinkan Pindah Club

Nada destruktif mulai ditebarkan kubu Surabaya Bank Jatim. Merasa belum mendapatkan jawaban dari PP PBVSI, club peserta livoli 2008 dan Proliga 2007-2009 ini mengancam membubarkan diri. Yang lebih mengerikan, SBJ juga berpotensi mematikan karir pemain-pemainnya untuk berkiprah di timnas maupun arena bergengsi lain. Simak berita yg dilansir harian bandung pikiran rakyat berikut ini.

PARA pemain bola voli putri klub Surabaya Bank Jatim tidak akan diizinkan pindah maupun memperkuat tim nasional, apabila nantinya klub itu benar-benar dibubarkan, karena pengurus tidak puas dengan keputusan PP PBVSI. Asisten Manajer Tim Surabaya Bank Jatim, Johanes Kunto, di Surabaya, Senin (6/4), mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu keputusan PBVSI, terkait protes atas kasus kecurangan pada final Proliga 2009 beberapa waktu lalu.

Menurut Kunto, seluruh pemain sangat memahami keputusan yang akan diambil pengurus klub. Para pemain senior yang tercatat sebagai karyawan Bank Jatim, nantinya akan diminta menekuni pekerjaannya, sedangkan delapan pemain junior yang masih sekolah, tetap dibiayai sekolahnya melalui program beasiswa perusahaan, hingga selesai. Direktur Utama Bank Jatim, Moelyanto yang saat ini masih tercatat sebagai Wakil Ketua Pengprov PBVSI Jatim, juga akan mengundurkan diri dan tidak bersedia lagi mengurusi bola voli

Bank Jatim Bakal Mundur?

| 0 komentar

Bank Jatim tampak amat murka dengan kekalahannya.
"Ada yang tak suka Bank Jatim juara," seru Eddy Rusianto, manajer, dalam jumpa pers setelah final.
Namun, Eddy tak mau gamblang menyatakan siapa pihak yang tak mau timnya juara.
"Anda tak perlu tanya. Bisa dilihat. Buktinya wasit memberi keputusan kontroversial," katanya.


Ia bahkan merasa sudah dicurangi saat dikalahkan PLN pada babak final four di Magetan. "Kami jelas merasa dirugikan," ucapnya.

Hanny Surkatty, Direktur Proliga, dengan tegas menolak isu menjegal Bank Jatim menjadi juara. "Kami selalu bersikap netral. Tak benar kalau Proliga memihak," tegasnya.
Namun, ia tak menutup kemungkinan jika kelak Proliga memakai wasit asing.
"Kemungkinan itu ada, tapi sebenarnya kapasitas wasit kita cukup bagus," tuturnya.

Lebih lanjut Eddy menyebut bahwa Bank Jatim akan membubarkan diri jika protes mereka ditolak.
Sayang, hanya karena satu kekalahan, pembinaan harus dikorbankan.

UNJ dan STIE INDONESIA Berbagi Gelar di AVC

| 0 komentar

Universitas AtmaJaya Jakarta kembali mengelar turnamen akbar yang bertajuk AVC (AtmaJaya Volleyball Competition). Turnamen yang mensyaratkan para pesertanya bukan dari kalangan bola voli professional (bukan merupakan mantan atau pemain Pelatda, Pelatnas, Proliga dan sederajatnya) digelar dari tanggal 2-18 Februari 2009 di Hall Olahraga UNIKA AtmaJaya. Pada penyelenggaraan AVC tahun ini tercatat ada 15 Universitas dan 17 Sekolah Menengah Atas yang ikut ambil bagian, diantaranya adalah UNJ, STIE Indonesia, SMA PGRI 109, SMAN 74 dan tentu saja Atma Jaya sebagai tuan rumah.

Sistem yang digunakan dalam AVC adalah setengah kompetisi. Penyisihan dilaksanakan pada tanggal 2 Feb – 13 Feb 2009, kemudian dilanjutkan dengan babak semifinal pada tanggal 13 dan 16 Februari yang diramaikan pula dengan pertandingan All Star. Peserta All Star merupakan kumpulan pemain-pemain terbaik menurut panitia. Hanya saja ada yang kurang dari All Star tahun ini jika dibandingkan tahun lalu yang menampilkan tosser kenamaan Loudry Maspaitella. Tahun ini panitia kesulitan mendatangkan bintang tamu, karena berbarengan dengan dilaksakannya liga profesional PROLIGA.

Perebutan juara ketiga digelar pada 17 Februari 2009. Pada kategori Sekolah Menengah Atas juara 3 putra diraih oleh SMKN 20 Jakarta yang berhasil mengandaskan Finalis tahun lalu SMA Darussalam dengan skor 3-2, sedangkan dikelompok putri SMA Darusalam berhasil menumbangkan SMAN 51 dengan skor telak 3-0.
Untuk kategori universitas, juara 3 berhasil direbut oleh Perbanas disektor putra dan Atma Jaya di sektor putri.

Partai Final dilaksanakan pada 18 Februari 2009, pada kategori SMA sektor putri. SMAN 74 harus puas dengan gelar juara 2 setelah dikalahkan PGRI 109 dengan skor 1-3 ( 26-24,20-25, 20-25, 23-25). Tidak mau kalah dengan tim putri, tim putra SMA PGRI 109 juga berhasil merebut gelar juara 1 setelah pada partai final berhasil menumbangkan Nusa Putra 3 set langsung tanpa balas (25-19, 25-16, 25-21).

Pada kategori Universitas, Final kelompok putri kembali mempertemukan UNJ dengan STIE Indonesia, partai ini merupakan ulangan Final tahun lalu. Tahun lalu UNJ harus puas dengan tempat kedua, tahun ini hal tersebut kembali terulang Universitas Negeri yang berlokasi di Rawamangun tersebut harus mengakui keunggulan STIE Indonesia dengan skor ketat 3-2. Pada set pertama dan kedua, STIE Indonesia unggul dengan skor 25-20 dan 25-15. Namun set ketiga dan keempat UNJ bermain lebih rapi dan berhasil menyamakan kedudukan dengan skor 16-25 dan 22-25. Set kelima berlangsung seru, karena kedua tim sama-sama menginginkan kemenangan. Akhirnya STIE Indonesia memenangkan set penentuan ini dengan 15-12.

Sementara itu pada Final sektor putra, tim tuan rumah UNIKA AtmaJaya ditantang UNJ. Bermaterikan para mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang unggul dalam taktik dan strategi, UNJ akhirnya berhasil memperpanjang torehan prestasi mereka di ajang AVC dengan mengalahkan AtmaJaya 3-0 (18-25, 18-25, 22-25).

Acara ditutup dengan penyerahan medali, piala dan hadiah berupa uang tunai dan souvenir dari pelaksana dan sponsor kepada tiap pemenang.

Berikut ini adalah rekapitulasi perolehan juara AVC 2009

Juara Universitas Sekolah Menengah Atas
Putra Putri Putra Putri
1 UNJ STIE Indonesia PGRI 109 PGRI 109
2 Atma Jaya UNJ Nusa Putra SMAN 74
3 Perbanas Atma Jaya SMKN 20 Darussalam
(aNez, Nindy, Arie)

Thx to Angelina, Shiera, Natalie, Donda dan panitia yang telah membantu kelancaran liputan. Kalo ada turnamen lagi, bilang-bilang yaaa.

ALL STARS Putra, Cermin Keberhasilan Pembinaan Timur

| 0 komentar

Ahirnya, dengan mengambil contoh peta pemanggilan pemain yang akan berlaga dalam all stars minggu 15 Februari 2009 mendatang, dapat ditarik kesimpulan bahwa club peserta Proliga 09 wilayah timur lebih berhasil dalam pembinaan dan regenerasi pemain.

Dari 12 pemain, Timur/Spirit yang merupakan gabungan Samator, Yuso dan Jember hanya menyisipkan satu pemain asing yaitu van Kieu ari samator. Sedangkan barat/dinamis yang merupakan gabungan Sananta, BNI dan Bank sumsel diperkuat 4 pemain asing (3 dari bank sumsel, 1 dari sananta). Yang bisa ditarik dari hal ini ada beberapa hal.

Pertama, Timur lebih mengedepankan pemain lokal binaan sendiri, sedangkan barat tidak memiliki stock pemain lokal yang cukup sehingga keberadaan pemain asing menjadi tulang punggung prestasi tim.

Jika kita simak perjalanan tim-tim barat di putaran I ini, sananta baru bia menggeliat setelah hadirnya pemain asing bertipe quicker dengan tinggi badan 2.14 m. Bank sumsel merasa perlu menghadirkan 3 pemain asing untukmemperkuat barisannya, namun sejauh ini prestasinya belum menggembirakan meski bertahan di posisi 4. Yang lebih tragis, BNI sudah menghadirkan 2 pemain asing namun belum meraih satupun kemenangan.

Yang kedua, bisa dikatakan tim barat lebih memiliki kekuatan finansial daripada tim-tim2 dari timur. Ini bisa dimaklumi karena dua dari tiga tim barat didanai oleh Bank.
Yang memprihatinkan adalah, dari sisi usia, Tim barat belum bisa melepaskan diri dari bayangan sosok pemain-pemain veteran. Kita lihat toser-toser terpilih dari barat adalah Loudry dan Erwin rusni dari BNI dan sananta. Loudry sudah sangat berumur (40 tahun?) meski permainannya masih bagus. Sedangkan Erwin rusni pun sudah tidak muda lagi. Jika saja diperlukan toser ke 3, mungkin barat akan memanggil Rastoni toser utama bank Sumsel yang juga sdh memasuki usia diatas 32 tahun. jadi, sejauh ini di barat belum ada lagi sosok toser berbakat yang segera muncul di papan atas pervolian Indonesia.

Ingin lebih trenyuh lagi (terkait usia)? kita masih melihat terpanggilnya Usep suparman dan Robbi Meliala di tim barat. Usep termasuk pemain lama dan pernah main di era octavian, sedangkan robbi meliala? Quicker satu ini memang pernah malang melintang di timnas di dekade akhir 90an, namun 2 tahun terakhir dia sudah tidak menjadi pemain inti di Proliga. Di BNI tahun 07 dan 08 Robi menjadi pemain cadangan, namun tahun ini justru menjadi "bintang". Salahkah jika jika dikatakan tahun ini pentas proliga (tim barat) mengalami kemunduran?

Namun demikian, kita tidak bisa mencuci tangan begitu saja. Jika benar pemilihan pemain ini adalah hasil pollling, maka peran penonton (yg memilih) pun ikut menjadi penentu. Boleh jadi penonton kurang memperhatikan faktor usia dalam memilih. Atau bisa jadi memang tidak ada pilihan lagi yang menjadi pilihan karena Sananta, BNI dan Bank sumsel belum menampilkan sosok yang lebih menyentuh hati pemilih?

Hasil Pembinaan lawan Hasil Belanjaan
tak pelak lagi, Laga all stars tahun ini memang mencerminkan pertarungan antara tim-tim Binaan jangka panjang dengan sebuah tim hasil belanjaan. Timur di perkuat tiga klub yang rajin menacri pemain-pemain berbakat dan melakukan pembinaan jangka panjang, sedangkan barat di dominasi oleh pemain hail "belanja".

Menjadi menarik jika pertandingan ini dipandang sebagai ajang uji coba pemain-pemain muda dari timur (kecuali mamad) melawan gabungan pemain-pemain senior (kecuali rivi) dengan pemain asing. Kita harapkan tim muda bisa mengeluarkan segala kemampuannya agar bisa jadi pelajaran berharga untuk perkembangan generasi voli mendatang.
Meski pertandingan ini dikemas sebagai sebuah hiburan dan ajang interaksi dengan penggemar, semoga pelatih yang diberi wewenang bisa meramu tim terbaik untuk mendapatkan kemenangan. Mungkin ada keengganan pelatih jika tidak memberikan kesempatan bermain bagi semua pemain terbaik ini, namun hendaknya ramuan tetap memberikan sajian terbaik agar penonton baik di GOR maupun di TV merasa puas. Semoga. (marto)

Tim Putri Binus Juara Voli Unpar

| 0 komentar

UI Kalahkan UPH pada Final Kelompok Putr

BANDUNG, (PR).-Tim bola voli putri Bina Nusantara (Binus) menjadi juara Invitasi Bola Voli Unpar setelah menaklukkan tuan rumah Universitas Parahyangan 3-2 (25-19, 25-15, 23-25, 24-26, 18-16) pada pertandingan final di Gedung Serbaguna Universitas Parahyangan, Jln. Ciumbuleuit Bandung, Kamis (9/10).

Sementara itu, posisi ketiga putri diraih oleh tim Institut Bisnis dan Ilmu Informatika (IBII).

Untuk putra, tim Universitas Indonesia (UI) keluar sebagai juara setelah mengalahkan Universitas Pelita Harapan (UPH) 3-0 (25-23, 26-24, 25-23). Sementara itu, tempat ketiga diduduki Universitas Kristen Maranatha setelah menaklukkan Universitas Krida Wacana (Ukrida) 3-0 (25-12, 25-21, 25-13).

Pertandingan final putri berlangsung ketat diwarnai saling menyusul angka. Kedua tim tetap menampilkan permainan terbaiknya. Pada awal pertandingan, kedua tim bermain kurang lepas sehingga sering melakukan kesalahan sendiri.

Memasuki pertengahan set pertama, tim Binus mulai melancarkan variasi smes dan berhasil mencetak poin. Hal itu berbeda dengan tim Unpar yang bermain kurang bersemangat sehingga serangannya sering kali lemah. Set pertama pun dimenangi Binus dengan angka 25-19.

Memasuki set kedua, tim Binus semakin percaya diri dan bermain lepas. Melalui variasi smes yang didominasi oleh Shelley dan Marlina, tim Binus meninggalkan perolehan poin Unpar dan memenangi set kedua 25-15.

Kemenangan dua set sempat membuat tim Bina Nusantara lengah. Pada set ketiga, tim Unpar memberikan perlawanan melalui variasi permainan Lulu, Phepy, Inge, dan Fransisca sehingga dapat memimpin perolehan poin. Sementara itu, pemain tim Binus mulai kehabisan stamina sehingga kurang fokus dalam bermain. Tim Unpar pun mencuri set ketiga dengan kedudukan 25-23.

Mental tim Unpar semakin naik setelah memenangi set ketiga. Bak mesin diesel, tim Unpar mulai menampilkan kemampuan terbaiknya. Meskipun sempat tertinggal 19-24, Lulu dkk. tetap memberikan perlawanan dengan mengumpulkan poin demi poin.

Permainan tim pun semakin variatif dengan menggunakan blocking untuk menghalau smes pemain Binus. Sementara itu, tim Binus mulai kelelahan. Setelah terjadi deuce, set keempat dimenangi oleh Unpar dengan kedudukan 26-24.

Memasuki set kelima, permainan semakin memanas dan berlangsung ketat. Saling menyusul angka tetap mewarnai permainan sejak awal set tersebut. Namun, pada akhir pertandingan, tim Unpar sering melakukan kesalahan sendiri terutama dalam melakukan servis. Hal itu menjadi peluang bagi Binus untuk menghasilkan poin hingga memaksa terjadi deuce. Pertandingan pun ditutup melalui smes dari Marlina yang sekaligus menentukan kemenangan Binus.

Kesalahan dalam melakukan servis diakui pelatih Unpar Edi Firdaus, merupakan salah satu kelemahan timnya. "Latihan tim kurang maksimal termasuk dalam melakukan servis," ujarnya.

Meskipun demikian, ia tetap merasa bangga dengan permainan timnya karena tetap menampilkan permainan terbaiknya meski sempat tertinggal dua set. Ia mengakui, timnya kurang bermain lepas pada awal pertandingan karena bermain di depan suporternya. Selain itu, tim Unpar baru kali ini memasuki babak final sehingga timbul rasa grogi.

Pelatih tim Binus Effendi mengatakan bahwa timnya bermain lepas saat bertanding. Ia mengakui, stamina timnya sempat terkuras pada set ketiga dan keempat sehingga lawannya sempat menyamakan kedudukan.

Binus beruntung karena memiliki tosser Florence, yang tampil baik pada set kelima. "Selain mampu memberikan umpan bola yang baik, dia juga bisa melihat posisi pemain," ujarnya. (CA-185)***